JAKARTA - Kasus Covid-19 di Jawa Timur (Jatim) mengalami lonjakan yang signifikan dalam beberapa minggu belakangan. Berdasarkan data yang dibeberkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, ada kenaikan sebanyak 90 kasus pada Kamis, 4 Juni 2020. Saat ini, total kasus Covid-19 di Jatim sudah menembus angka 5.408.
Atas dasar hal itu, Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani meminta agar pintu keluar-masuk Jakarta dengan Jawa terus diperketat. Pengetatan dilakukan sejalan dengan penerapan masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menuju New Normal di Jakarta.
"Mungkin perlu pengetatan area masuk keluar dari DKI sehingga jangan sampai ini menjadi sumber kasus imported case dari daerah yang masih zona merah," kata Laura saat dikonfirmasi Okezone, Jumat (5/6/2020).
Penerapan PSBB masa transisi di DKI Jakarta sendiri diputuskan setelah adanya penurunan jumlah kasus positif Covid-19 dalam beberapa bulan terakhir. Oleh karenanya, harus ada pengetatan orang yang keluar-masuk agar tidak kembali terjadi peningkatan kasus di Jakarta selama masa transisi.
"Jadi bagaimana kemudian sistem perbatasan juga perlu diperkuat sehingga orang yang bisa keluar masuk betul-betul diskrining," ucapnya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 beserta jajaran TNI dan Polri memfokuskan penanganannya di Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan. Sebab, tiga provinsi itu saat ini angka penyebaran kasusnya masih tinggi.
"Saya ingin kita konsentrasi, gugus tugas maupun kementerian, TNI dan Polri, utamanya konsentrasi di tiga provinsi yang angka penyebaran masih tinggi, yaitu di Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan," kata Jokowi saat membuka rapat terbatas percepatan penanganan Covid-19, Kamis, 4 Juni 2020.
(Awaludin)