BENGKULU - Setiap daerah di Indonesia, memiliki kebudayaan dan tradisi ritual adat istiadat yang secara turun menurun selalu digelar oleh masyarakat. Seperti di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Suku Lembak, contohnya.
Suku Lembak merupakan salah satu suku di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''. Masyarakat suku ini tersebar di beberapa daerah di provinsi yang dihuni tidak kurang dari 2,2 jiwa juta ini. Termasuk di Kota Bengkulu.
Di Kota Bengkulu, suku ini tersebar di beberapa kelurahan. Seperti, di Kelurahan Semarang, Surabaya, Tanjung Jaya, Tanjung Agung, Dusun Besar, Panorama, Jembatan Kecil, Pagar Dewa, Sukarami, Pekan Sabtu dan Kelurahan Kandang.
Di suku ini memiliki banyak tradisi. Mulai dari upacara kelahiran, beranjak remaja, perkawinan hingga kematian. Di masyarakat Lembak juga memiliki tradisi kenduri nasi santan atau nasi uduk, ketika ingin panen raya gabah padi.
Tradisi kenduri nasi santan itu dihelat jelang panen. Hal tersebut merupakan wujud syukur masyarakat Lembak yang sudah memasuki musim panen. Dalam tradisi tersebut, silaturahmi dan kebersamaan warga tercipta dari nikmatnya nasi uduk atau nasi santan.
Sebelum menggelar kenduri. Ahli rumah terlebih dahulu memasak nasi uduk di rumah. Selanjutnya, nasi santan dibawa ke pondok sawah milik tuan rumah yang hendak menggelar kenduri nasi uduk.
Selain nasi uduk, tuan rumah yang menggelar hajat pun menyiapkan sesajian makanan lainnya. Seperti, telur rebus, sambal, mie bihun tumis, air kopi, air teh serta makanan ringan lainnya.
Tradisi ini masih dilakukan salah satu masyarakat Lembak di Kelurahan Jembatan Kecil, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu. Siti Fadhillah, namanya. Siti memiliki areal persawahan di Kelurahan Panorama, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu.
Perempuan kelahiran 1959 itu tetap menggelar tradisi kenduri nasi santan jelang panen raya yang telah dilakukan orangtua terdahulu atau nenek moyang masyarakat suku Lembak, secara turun temurun.
Untuk menggelar hajat ini, perempuan 60 tahun itu mengajak, tokoh masyarakat, sanak saudara, tetangga dan petani lainnya untuk berkumpul di pondoknya, guna melangsungkan kenduri nasi santan.
Di pondok milik perempuan yang akrab disapa Mamak Padel itu, tokoh masyarakat akan membawakan ''rambak'' atau menyampaikan puji dan syukur atas tanaman padi yang sudah memasuki musim panen, sekaligus memajatkan doa kepada Allah SWT.
Sebelum memanjatkan doa yang dibawakan tokoh masyarakat, tuan rumah membakar kemenyan didekat batang padi didekat pondok. Usai membakar kemenyan, tokoh masyarakat memberikan kata pengantar doa.
Dalam kenduri itu, kata Mamak Padel, tokoh masyarakat Lembak memanjatkan doa kepada Allah SWT, serta mendoakan pendahulu atau nenek moyang masyarakat Lembak, yang awal mula membuka areal persawahan, serta para pendahulu masyakarat Lembak lainnya.
Usai berdoa, sajian makanan yang telah disediakan sebelumnya dihidang, disantap secara bersama berikut dengan sajian makanan lainnya. Sembari menyantap nasi santan, mereka juga bercengkrama dengan akrab.
Kenduri nasi santan, jelas Mamak Padel, merupakan salah satu wujud puji dan syukur kepada Allah SWT. Di mana tanaman padi sudah bisa dipanen pada musim kali ini. Tujuannya tidak lain agar musim tahun depan gabah padi bisa bertambah dan bebas dari hama penyakit.
''Kami menggelar tradisi ini secara turun menurun. Kenduri nasi santan ini dilakukan jelang panen raya,'' kata Siti Fadhillah, Sabtu 20 Juni 2020.