Menurut Adang, setiap kali ada pergantian Kapolri, selalu saja dirinya membaca di media mainstream bahwa prosesi itu dikaitkan dengan kasus-kasus yang terjadi. Jadi baiknya, hal seperti itu tidak perlu menjadi suatu kajian atau polemik.
“Itu sepetinya panjang bagaimana kita menyaiapkan RUU lalu buku biru Polri tentang isntitusi,struktur dan kultur, dan masalah saat ini kultur belum selesai,” imbuhnya.
Baca Juga: Terjerat Kasus Djoko Tjandra, Brigjen Nugroho Wibowo Dicopot
Adapun track record oknum yang terlibat kasus Djoko Tjandra itu, Adang mengaku tidak tahu karena saat dirinya menjabat di Polri, mereka masih sangat junior karena memang, perbedaan usia pun terlalu jauh dengan dirinya. Tapi, ia akan mengawasi bagaimana Propam bisa mengungkap bagaimana kasus itu di internal Polri.
“Enggak mungkinlah seorang perwira tinggi melakukan seperti itu, kecuali baru keluar Akabri atau Polri yang masih di bawah rasanya masih oke. Ini perwira tinggi, namanya perwira tinggi dia memiliki suatu sikap dan metal yang kuat. Karena mau apalagi di atas tinggi enggak ada lagi tuh,” pungkasnya.
(Arief Setyadi )