"Ada juga kasus anak berkebutuhan khusus, misalkan ia pintar di psikomotior, suka bicara, tapi lemah dalam hal menulis, tapi sekarang tugasnya nulis terus, nah dia juga gak naik kelas karena dianggap kerjanya tak maksimal," keluh Retno.
"Padahal surat edaran Kemendikbud jelas, siswa jangan dibebankan untuk menuntaskan kurikulum, harusnya memahami kondisi anak, banyak anak jadi korban gara-gara ini," jelasnya.
Retno mengharapkan ada evaluasi dalam pembelajaran jarak jauh ini. Evaluasi itu diharapkan bisa menghasilkan solusi, seperti internet gratis untuk siswa.
"Lalu kurikulum juga harus adaptif dengan kondisi sekarang, kurikulum harus disederhanakan, agar anak tidak terbebani. Lalu juga harus ada pemetaan, siapa yang bisa daring, siapa yang tak punya daring, sekolah juga harus melihat ini sebagai instrumen untuk belajar jarak jauh," ungkapnya.
(Khafid Mardiyansyah)