Karena itulah, di paruh waktu belajarnya ia meluangkan waktu kosong dan tenaganya untuk bekerja sebagai buruh cangkul dan bersih-bersih di sebuah ladang perkebunan, kawasan Desa Ancut, Karangasem.
Sebenarnya ia telah menjalankan pekerjaan ini profesi ini sejak kelas 3 SMP, namun hanya di waktu libur sekolah saja.
Tapi sejak memasuki masa pandemi covid-19 yang mengharuskannya belajar online dan dengan tuntutan biaya kuota internet, Sindi harus bekerja lebih giat dengan merelakan separuh waktu belajarnya untuk bekerja.
Ia mengaku kadang merasa sangat kewalahan mengikuti sistem pembelajaran online yang mengharuskannya mengerjakan tugas sekolah yang lebih banyak, sambil bekerja. Tapi ia tak pernah menyerah, sebab jika ia berhenti berjuang, apalagi pekerjaan orang tua yang hanya buruh serabutan dengan pengahasilan maksimal 1 juta per bulan tak mampu membuayai pendidikannya.