TULUNGAGUNG – Pasca-diwarnai kisah tragis dibalik pembuatan Terowongan Niyama, bangunan peninggalan Jepang ini tak lagi dirawat maksimal. Terlebih saat Jepang meninggalkan Indonesia usai proklamasi kemerdekaan pada Agustus 1945.
Sejarawan Tulungagung Latif Kusairi menyebut, pasca dibuka pada Juli 1944 wilayah di Campurdarat seluas 16.000 area tanah diperuntukkan masyarakat menjadi sawah yang subur.
“Sayang setelah kemerdekaan Terowongan Niyama ini tidak dirawat dengan baik sehingga terjadi pendangkalan. Hasilnya pada tahun 1955 Tulungagung kembali dilanda banjir besar, jadi tahun 1955 itu di Tulungagung banyak yang tidak melakukan pemilu,” ucap Latif, kepada Okezone.com.
Peristiwa banjir yang terus menerus melanda ini, kembali terjadi hampir setiap tahunnya disebut Latif, perbaikan terowongan yang dilakukan pada masa – masa orde lama tak mampu membuat banjir hilang. Pendangkalan terowongan sepanjang 1.000 meter yang parah tetap tak mampu menampung debit air.