Sementara tiga terowongan baru yang dibuat pemerintah orde baru kali ini dijadikan salah satu titik pengairan utama di Tulungagung. Selain itu terowongan ini juga digunakan sebagai sarana Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Niyama. Dari sanalah terowongan yang awalnya sempat dibuka untuk berwisata kini tak boleh lagi diakses masuk.
Hal ini yang disebut Latif menjadi titik lemah dari pemerintah daerah Tulungagung, dimana bangunan – bangunan yang bersejarah kurang begitu diperhatikan. Hal ini diperparah dengan tidak adanya penyematan identitas plakat – plakat kepada bangunan cagar budaya dan bersejarah yang ada di Kabupaten Tulungagung.
“Harusnya pemerintah lokal bisa menguri – nguri sejarah. Keberadaannya seharusnya penting bagi Pemda tulungagung dan harus bisa dilestarikan. Tapi sejauh ini bangunan – bangunan cagar budaya tidak ada plakat yang mengindetikkan bangunan cagar budaya. Itu di kota saja belum, apalagi kalau di luar kotanya,” tutupnya.
(Amril Amarullah (Okezone))