Sendirian tengah malam di hutan yang gelap tampa lampu dengan cuaca hujan, Jaelan memaksa menginjak pedal gas. Ban berputar kencang, tapi mobil justru makin dalam masuk lumpur. Setengah bodi mobil tenggelam.
"Tidak bisa buka pintu, saya tidur di mobil," kata Jaelan.
Pagi tiba, mobil lain datang dan Jaelan meminta bantuan. "Satu mobil bantuan tarik, tidak bisa, datang satu lagi tarik tidak bisa juga, baru ketiga bisa," sambungnya.
Jalan ke Tambrauw baru selesai dibuka pada 2010, sejak kabupaten itu dimekarkan dari Sorong. Dulu, Tambrauw terisolasi. Ia terasing. Daerahnya jika di lihat dari peta terletak tepat di kepala burung Pulau Papua.
Saat belum dibuka jalan, warga pesisir Tambrauw berbelanja ke Sorong sebulan sekali dengan perahu sampai sehari semalam. Bagi masyarakat yang jauh dari pesisir seperti Klabili yang terletak di tengah hutan, untuk menjual hasil bumi atau berbelanja, mereka harus jalan kaki mendaki gunung menembus rimba, untuk sampai ke pantai lalu naik perahu ke Sorong.
Aipda Eddy, seorang polisi di Tambrauw bercerita ke Okezone saat jalan belum dibuka, dirinya pernah berjalan 3 hari 3 malam menelusuri hutan rimba, dari Tambrauw ke Sorong mengawal petugas pemilihan mengambil logistik Pilkada.
"Kalau mau Pilkada, Tuhanne kita orang jalan kaki 3 hari 3 malam ke Sorong, ambil (logistik) yang untuk Pilkada," katanya.
Eddy sangat bersyukur Tambrauw kini memiliki jalan, walau belum mulus, tapi sangat membantu masyarakat di sana, dibandingkan dulu.