Jalan Sorong-Tambrauw baru teraspal sampai di Malaumkarta. Kemudian beberapa titik di Sausapor. Lalu, yang menuju Fef, pusat pemerintahan Tambrauw, juga sudah teraspal. Selebihnya terbiarkan bak arena off road.
Menurut Bupati Tambrauw, Gabriel Asem, ada sekitar 30 kilometer jalan Trans Papua Barat dari Sorong ke Tambrauw yang belum teraspal. "Jalannya masih berlumpur," katanya.
Karena medannya berat, maka untuk melintas jalan Trans Papua Barat di Tambrauw bukan hanya butuh nyali, tapi juha memboroskan bahan bakar minyak (BBM). Jaelan mengaku sekali jalan dari Sorong ke Sausapor bisa menghabiskan solar paling sedikit Rp300 ribu.
Jaelan berharap jalan di Tambrauw khususnya di kawasan Distrik Samlekai menuju Sausapor segera diaspal. "Harapannya ada perhatianlah dari pemerintah," katanya.
Ones, warga Kampung Klabili mengungkapkan harapan serupa. Trans Papua Barat tersebut menghubungkan akses Tambrauw dengan Sorong dan Manokwari.
"Masyarakat sangat butuh jalan ini. Ini jalur utama transportasi penghubung dari kabupaten ke kabupaten, kecamatan ke kecamatan, kampung ke kampung, jadi harapan kami di sini jalannya bisa diaspal," katanya.
Menurut Ones, bagi warga pesisir, jalan belum beraspal mungkin ada pilihan menggunakan perahu untuk berbelanja atau menjuak hasil alam ke Sorong. Tapi, buat masyarakat Samlekai khususnya Klabili, tak ada pilihan karena laut jauh, terpaksa menggunakan "jalan bubur" ini.
Kampung-kampung di Tambrauw masyhur dengan buah-buahan dan sayuran. Hasil bumi itu dipasarkan ke Sorong. Namun, pemasaran belum begitu mulus karena jalan rusak. Jika jalan bagus, menurut Ones, hasil bumi bisa lebih cepat dipasarkan ke Sorong.