Dilema Sekolah Tatap Muka di Tengah Masih Tingginya Kasus Covid-19

Awaludin, Jurnalis
Senin 04 Januari 2021 09:39 WIB
Kegiatan belajar mengajar dengan tatap muka (foto: Dok Okezone)
Share :

Kegiatan Belajar Mengajar Tatap Muka Berisiko Tinggi

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman B. Pulungan mengatakan, pembukaan sekolah untuk kegiatan belajar mengajar tatap muka mengandung risiko tinggi, khawatir akan terjadinya lonjakan kasus Covid- 19.

"Karena anak masih berada dalam masa pembentukan berbagai perilaku hidup yang baik agar menjadi kebiasaan rutin di kemudian hari, termasuk dalam menerapkan perilaku hidup bersih sehat. Ketika protokol kesehatan dilanggar, baik sengaja maupun tidak, maka risiko penularan infeksi Covid-19 akan meningkat sangat tinggi," katanya dalam keterangan resminya, pada Selasa 1 Desember 2020.

Lebih lanjut, di beberapa negara banyak yang terjadi lonjakan Covid-19. Sebab semua warga sekolah, termasuk guru dan staf, dan juga masyarakat memiliki risiko yang sama untuk tertular dan menularkan Covid-19.

"Sehubungan dengan rencana dimulainya transisi pembelajaran tatap muka pada bulan Januari 2021, maka IDAI memandang perlu untuk menyampaikan pendapat," terangnya.

 

Berikut pendapat IDAI perihal pembelajaran tatap muka pada Januari 2021 mendatang:

1. Upaya bersama yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan anak Indonesia perlu terus diperjuangkan, baik melalui pembelajaran catap muka maupun saat belajar dari rumah.

2. Seluruh pemangku kepentingan, baik orangtua, masyarakat, maupun pemerintah, berkewajiban memenuhi Hak Anak sesuai dengan Konvensi Hak Anak Tahun 1990 yaitu hak untuk hidup, hak untuk bertumbuh dan berkembang dengan baik, serta hak untuk mendapatkan perlindungan.

Pemenuhan kebutuhan kesehatan dasar anak seperti nutrisi lengkap seimbang, imunisasi lengkap sesuai usia, kasih sayang, stimulasi perkembangan, keseimbangan aktivitas fisik dan tidur, serta perlindungan dari berbagai risiko gangguan keselamatan dan tumbuh kembang dimulai dari lingkungan rumah dan keluarga.

Kemudian, orangtua dan anggota keluarga dewasa di rumah diharapkan dapat memeriksa apakah kebutuhan anak telah terpenuhi dan mencari bantuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut ke fasilitas layanan terdekat.

3. Pendidikan disiplin hidup bersih sehat serta penerapan protokol kesehatan dimulai dari rumah sebagai lingkungan terdekat anak, terlepas dari apakah anak menghadiri kegiatan

Belajar tatap muka atau tidak. Orangtua dan anggota keluarga dewasa diharapkan mulai memperkenalkan 3M; kebiasaan cuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak sejak dini.

Pengenalan kebiasaan mencuci tangan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana memberi contoh secara rutin dan membersihkan tangan bayi sejak usia mulai MPAS, lalu ditingkatkan secara bertahap.

Pemakaian masker dengan cara yang benar dapat mulai dikenalkan sejak usia 2 tahun, dengan durasi semampu anak, kemudian ditingkatkan secara bertahap. Ketika anak belum mampu hendaknya tidak dimarahi, melainkan diberi apresiasi ketika ia mampu melakukan dengan benar, serta terus diberikan contoh, kesempatan, dan bimbingan secara berulang ulang hingga lancar dan menjadi kebiasaan.

Hal serupa juga dikatakan oleh Epidemiologi Universitas Griffith Asutralia, Dicky Budiman. Menurutnya, situasi pandemi Covid-19 di Indonesia sudah sangat serius jadi diperlukan penanganan secara benar-benar serius. Pasalnya, perhari kasus positif Covid-19 di Indonesia capai ribuan bahkan hingga rekor 8.369 orang pada 3 Desember 2020.

“Wacana sekolah akan tatap muka pada Januari dalam waktu relatif singkat, sangat riskan tentunya, sebelumnya kita mengadakan pilkada serentak dan bulan Januari sangat resiko juga walaupun dibatasi dalam tatap muka sekolah, sangat sulit aturan pembatasan orang,” tegas Dicky kepada Okezone beberapa waktu lalu.

Pada dasarnya, kata Dicky, positivity rate atau tingkat penularan virus corona di Indonesia masing tinggi yakni di atas 10%. Sementara saran Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, pelonggaran kegiatan di suatu negara bisa dilakukan jika posivity rate di bawah 5%.

Jika berpatokan pada hal itu, ia menyarankan pemerintah membatalkan keputusan tersebut. Itu karena besar kemungkinan terjadi klaster penularan Covid-19.

"Dalam kondisi begitu, banyak klasternya. Terjadi peningkatan kasus infeksi pada anak-anak hingga 100% dalam satu bulan. Artinya berbahaya sekali bagi Indonesia kalau memaksakan membuka sekolah. Potensi klaster Covid-19 jelas tinggi," tuturnya.

Persoalan lain, sebulan sebelum pembukaan sekolah atau pada Desember 2020 ada hajatan Pilkada Serentak di 270 daerah. Selain itu, pada akhir 2020 ada libur panjang. Dua hal tersebut, menurut Dicky, sudah pasti menimbulkan klaster penularan Covid-19 sehingga dampaknya positivity rate akan semakin tinggi.

"Kecuali Desember ditiadakan keramaian. Pengetesan juga ditingkatkan bisa kita lihat di Januari, lalu dievaluasi lagi. Tapi dengan asumsi sekarang sangat tidak realistis. Itu namanya mengorbankan anak-anak kita," pungkasnya.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya