Menjelaskan bagaimana lampu tersebut bekerja, Sarwani mengatakan bahwa alat itu menggunakan teori anoda dan katoda.
“Sebenarnya dari SMP kita sudah belajar tentang katoda dan anoda,” ujar Sarwani.
Selain bisa digunakan sebagai penerangan, lampu air garam Sarwani juga bisa untuk mengisi daya ponsel, tetapi tidak bisa difungsikan secara bersamaan karena perbedaan voltase.
Lampu air garam yang diproduksi HEI ini benar-benar membantu warga yang sedang dalam pengungsian. Di saat aliran listrik terputus, kehadiran alat ini bisa memberikan penerangan dan menjadi solusi di tengah kegelapan.
“Sebelumnya, kami juga sudah memperkenalkan lampu ini di lokasi pengungsi erupsi Gunung Merapi, di Yogyakarta. Akhir tahun lalu, kami juga mengirim lampu-lampu ini ke lokasi pengungsi banjir bandang di Aceh,” katanya kepada Egy.
Sarwani berterima kasih, jika kemudian karyanya diapresiasi BNPB. Sarwani mengungkapkan bahwa pada awal 2020 dia bersua dengan Direktur Darurat BNPB Jarwansah, yang kemudian melaporkan perihal lampu garam ini ke Dody Ruswandi Deputy Darurat dan Kepala BNPB Letjen Doni Monardo.
“Rupanya ada keselarasan antara produk yang kami hasilkan dengan karakter negeri kita yang rawan bencana. Rawan bencana berulang. Lampu air garam sangat cocok di situasi darurat bencana. Tahun 2020 kami sudah diminta BNPB untuk memproduksi massal lampu air garam ini untuk kebutuhan darurat di lokasi-lokasi bencana,” ujar Sarwani.
(Rahman Asmardika)