Ada juga batu nisan Pieter Janse van Hoorn (1619-1682), istri, anak laki-laki dan perempuannya serta menantunya Kapten F Tack yang gugur di Kartasura, dekat Solo, Jawa Tengah. Perwira yang diunggulkan kompeni ini tewas di tangan Untung Surapati, bekas budak dari Bali dalam suatu pertempuran 1686.
Di museum ini juga terdapat makam seorang ahli sejarah perpustakaan di Indonesia dan juga ahli kesusteraan Jawa Kuno, Dr JLA Brandes, yang telah banyak menguasai tulisan-tulisan yang terdapat di batu ataupun logam (prasasti). Sejak 9 Juni 1897, ia diangkat menjadi ahli perpustakaan pada Bataviasch Genootschap (Museum Nasional sekarang).
Sampai tahun 1940-an Jl Tanah Abang I, Jakarta Pusat bernama Kerkhoflaan. Kerkhof dalam Belanda berarti kuburan atau tempat pemakaman. Di jalan ini terdapat kuburan besar untuk warga Kristen, yang kala itu luasnya 5,9 hektare. Kuburan tersebut tinggal 1,2 hektare, setelah 4,7 hektare dijadikan gedung kantor Wali Kota Jakarta Pusat.
Lahan bekas pemakaman warga Belanda ini pernah dikenal dengan sebutan Kebon Jahe Kober, dibangun pada 1795. Kebon Jahe Kober merupakan salah satu kampung yang penghuninya sebagian besar etnis Betawi. Kampung ini letaknya bersebelahan dengan pemakaman.
Baca Juga : Bahan Kayu Tongkat Komando Bung Karno dari Tempat Keramat
Pada Juli 1977, gubernur Ali Sadikin telah menjadikannya sebagai 'Museum Prasasti', nama baru untuk sebagian pekuburan lama yang telah ditutup sejak 1975. Koleksi yang tersimpan di sini sebanyak 1.409, terdiri dari jenis prasasti bentuk nisan, tugu, monumen, piala, lempeng batu persegi, replika, miniatur, dan berbagai bentuk lainnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)