NEW DELHI – Bagi India, negara yang bergulat dengan masalah buang air besar sembarangan, memiliki toilet di rumah adalah hal yang wajib jika ingin memiliki jabatan publik, atau menjadi wakil rakyat.
Pencalonan Krina Patel, seorang kandidat Kongres dalam pemilihan lokal di Distrik Ahmedabad, Gujarat ditolak setelah diketahui bahwa rumahnya di Desa Kanbha, tempat dia mengajukan pencalonan, tidak memiliki toilet. Pencalonan itu ditolak setelah absennya tempat buang hajat itu diangkat oleh lawan-lawannya dari Partai Bharatiya Janata (BJP).
BACA JUGA: Bus Jatuh ke Kanal 9 Meter di India, Setidaknya 32 Tewas
Patel telah mengungkapkan harta miliknya sebagai memiliki sebuah flat, sebuah mobil senilai INR 1 juta (sekira Rp191 juta) dan emas senilai INR 1,5 juta (sekira Rp287 juta) tetapi mengakui di hadapan pejabat Komisi Pemilihan bahwa rumahnya di desa tersebut tidak memiliki kamar mandi.
Ahmedabad adalah distrik yang sama di mana Perdana Menteri Narendra Modi pada 2019 telah mengumumkan bahwa India telah bebas buang air besar sembarangan. Pengumuman itu dibuat bertepatan dengan peringatan 150 tahun kelahiran Mahatma Gandhi, hari yang didedikasikan oleh pemerintah India untuk memenuhi tujuan sanitasi.
Pada 2014 Pemerintah India telah meluncurkan 'Kampanye India Bersih' yang ambisius, yang dimulai oleh Perdana Menteri India Narendra Modi, dalam kampanye sanitasi terbesar yang pernah ada.
Sebanyak tiga juta pegawai pemerintah dan pelajar dari seluruh penjuru India didesak untuk melayani di kota besar, kota kecil dan daerah pedesaan untuk memastikan pembangunan toilet. Dalam 60 bulan, India membangun 110 juta toilet untuk lebih dari 600 juta orang, kata Modi pada Oktober 2019, pada akhir Kampanye India Bersih selama lima tahun.