Hari Tanpa Bayangan sendiri, jelas dia, sebagai dampak dari adanya peristiwa kulminasi atau biasa disebut juga transit dan istiwa. Dalam kondisi demikian, matahari tepat berada di posisi paling tinggi, tepat di atas kepala.
"Akibatnya, bayangan dari benda tegak terkesan tidak ada, atau seolah-olah menghilang. Karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. Sehingga disebut sebagai Hari Tanpa Bayangan," jelas dia.
Fenomena Hari Tanpa Bayangan, jelas dia, terjadi sebanyak dua kali dalam satu tahun. Di Ciayumajakuning, fenomena itu biasa terjadi pada Maret dan Oktober.
"Waktu tanpa bayangan harus tepat jamnya, termasuk menit dan detiknya. Kalau lewat maka akan terlihat bayangan lagi," pungkasnya.
(Awaludin)