Perusahaan-perusahaan Inggris Diduga Terlibat dalam Praktik Kerja Paksa Muslim Uighur

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Kamis 18 Maret 2021 06:53 WIB
China dituduh memberikan perlakuan buruk ke muslim Uighur (Foto: AFP)
Share :

CHINA - Sejumlah perusahaan Inggris diduga terlibat dalam kerja paksa warga Uighur di Provinsi Xinjiang, China.

Komite Bisnis, Energi dan Strategi Industri (BEIS) Majelis Rendah Parlemen Iggris mengatakan dalam rantai suplai terdapat ketidaktransparanan dan terjadi kegagalan di pihak pemerintah.

Ada berbagai perusahaan pakaian, eceran, media dan teknologi kemungkinan terlibat, dan kini tiba saatnya untuk menjatuhkan denda dan memasukkan nama-nama perusahaan yang gagal membuat perubahan ke dalam daftar hitam.

Komite BEIS mengatakan pihaknya terkejut mendapati banyak perusahaan masih tak mampu menjamin jaringan suplainya bebas dari praktik kerja paksa. Oleh karena itu, mereka berrpendapat bahwa perusahaan yang tidak bisa membuktikan diri bersih dari praktik kerja paksa di Xinjiang harus diberi sanksi.

Seperti diketahui, Xinjiang ditempati oleh banyak kelompok etnik minoritas, termasuk Muslim Uighur.

Laporan tersebut mengeluarkan rekomendasi agar pemerintah mempercepat rencana mengubah dan memperkuat Akta Perbudakan Modern 2015.

(Baca juga: PM Pakistan Puji Rencana Perdamaian Biden)

Para anggota parlemen juga merekomendasikan agar pemerintah menyusun kerangka kebijakan untuk membuat daftar perusahaan putih dan daftar perusahaan hitam bagi mereka yang berhasil dan mereka yang gagal memenuhi kewajiban dalam rangka melindungi hak asasi manusia di seluruh rantai suplainya.

"Sangat mengkhawatirkan jika perusaaan-perusahaan melayani jutaan konsumen Inggris tidak bisa menjamin bahwa rantai suplai mereka bebas dari kerja paksa, “ terang Nusrat Ghani, salah seorang anggota Komite BEIS dari Partai Konservatif.

"Legislasi perbudaan modern dan kebijakan Departemen Bisnis, Energi dan Strategi Industri tidak siap mengatasi situasi berat ini. Di tengah bukti yang meyakinkan tentang pelanggaran, tidak ada langkah-langkah signifikan yang baru dari pemerintah untuk melarang perusahaan Inggris mengeruk keuntungan dari praktik kerja paksa etnik Uighur di Xinjiang dan wilayah-wilayah lain di China,” urainya.

Untuk menyusun laporan ini, Komite BEIS mendengarkan keterangan dari berbagai saksi termasuk mereka yang bekerja untuk perusahaaan Boohoo, H&M, TikTok, The North Face dan Nike.

(Baca juga: Pasca-Penembakan di Atlanta, Obama: Kekerasan Anti-Asia Harus Diakhiri)

Disebutkan dalam laporan "jelas tidak dapat diterima" bahwa Boohoo hanya mempunyai sedikit data tentang berbagai jenjang di rantai suplainya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya