James Jay Carafano dari The Heritage Foundation mengatakan, meski terlalu dini untuk mengetahui apa kebijakan Biden terkait China, ia memperkirakan tidak akan terjadi perubahan pendekatan yang signifikan dari yang dilakukan pemerintahan Amerika sebelumnya.
“Sejauh ini, menurut saya, saya melihat lebih banyak kelanjutan ketimbang perubahan dalam hal kebijakan Amerika Serikat, dari pemerintahan Trump ke pemerintahan Biden. Mari kita identifikasi area di mana kita dan China tidak sepakat dan dorong itu semua dan tunjukkan kesediaan kita untuk melindungi kepentingan kita. Itu jauh lebih mungkin untuk membawa kita ke hubungan yang stabil secara lebih cepat,” kata Carafano.
Pengamat mengatakan, bahkan terkait retorika keras China, sebagian besar (sesungguhnya) ditujukan bagi khalayak dalam negeri. China ingin meredakan ketegangan dengan Amerika.
Abby Bard dari Center for American Progress mengatakan, “Dalam impian mereka, Amerika Serikat akan mundur dari keinginannya untuk menjadi kekuatan utama di Indo-Pasifik. Saya yakin itu tidak akan terjadi.”
Terutama setelah apa yang digambarkan Michael Kugelman dari Wilson Center sebagai “hubungan beracun” alias toxic relationship antara China dan Amerika selama pemerintahan Trump.
“Ada harapan bahwa pemerintahan Biden akan mampu mendorong detoksifikasi hubungan tersebut. Tapi yang kita lihat, hubungan itu justru semakin diracuni pada tahap ini,” ujarnya.
Pertemuan di Alaska itu hanyalah langkah pertama dan para pengamat mengatakan bahwa Amerika dan China akan terus bergerak maju. Meski demikian, butuh waktu bagi pemimpin kedua negara untuk menentukan seperti apa hubungan yang berkelanjutan di antara keduanya.
(Rahman Asmardika)