PADA 21 Juni 1970, pukul 07.00 WIB, Bung Karno meninggal dunia di Wisma Yaso, Jakarta Selatan. Dokter Mahar Mardjono menjadi orang yang menyaksikan Bung Karno di saat terakhir. RRI menyiarkan berita sekitar pukul 07.00 pagi tentang kematiannya. Ini dituliskan Roso Daras di bukunya Total Bung Karno.
Dokter Mahar melaporkan, saat itu pukul 04.00 pagi, Bung Karno dalam keadaan koma.
Ia dan dokter Sukaman berada di sampingnya. Menjelang pukul 07.00 pagi, Sukaman sebentar meninggalkan ruangan rawat. Ia sendiri berada di ruang rawat bersama Bung Karno. Bung Karno berbaring setengah duduk, tiba-tiba beliau membuka mata sedikit, memegang tangannya, dan sesaat kemudian Bung Karno mengembuskan napas yang terakhir.
Dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras diceritakan, buruknya penanganan terhadap penyakit Bung Karno juga mempercepat kematiannya. Beberapa bulan di awal 1969, Bung Karno tidak boleh menerima tamu, termasuk keluarganya, karena harus menjalani serangkaian pemeriksaan dan interogasi. Keluarganya hanya bisa mengantar makanan melalui penjaga.
"Bung Karno yang suka keramaian dan selalu membutuhkan teman bicara menjadi makin depresi karena diasingkan. Sementara dulu penjajah Belanda saat membuang tahanan politik ke luar Jawa, tidak melarang mereka bergaul dengan lingkungannya,"ujar Roso.
Keluarga boleh menengok dengan pembatasan, harus mengantongi izin dan cap instansi militer, tidak serta merta dimudahkan. Rachmawati dibentak dan dimarahi penjaga karena mengajak Bung Karno jalan-jalan di halaman Wisma Yaso.
Jika penjaga sedang baik, keluarga boleh ke Wisma Yaso. Tapi kalau sedang tidak baik, mobil ditahan di gerbang. Istri Bung Karno, Hartini sering harus berjalan kaki menenteng rantang makanan melintasi halaman yang sangat luas.
Bung Karno sempat menulis surat ke Presiden Soeharto tanggal 3 November 1968 untuk meminta kelonggaran agar keluarganya bisa mengunjungi. Ia juga meminta agar Ny Sugio yang selama ini mengurusi rumah Wisma Yaso, dizinkan membantu lagi.
Pembantu rumah tangganya tidak diizinkan masuk ke Wisma Yaso, sehingga untuk urusan dapur, Bung Karno harus mengurusnya sendiri.
Baca Juga : Ni Luh Putu Sugianitri Ajudan Terakhir Bung Karno Meninggal, Jasadnya Dikremasi
Ketika akhirnya ia mengembuskan napas terakhirnya. Di antara sayup-sayup suara seorang Ibu yang membacakan surat Yasin dekat jenazah Bung Karno, terdengar Ibu Wardoyo kakak kandung Soekarno terus meratap. “Karno, kowe kok sengsoro men."