Pemerintah memutuskan jenazah Soekarno disemayamkan di Wisma Yaso. Fatmawati marah dan kecewa dengan campur tangan Pemerintah. “Tidak, tidak ada cerito. Ini rumahnyo." Batin Fatma terguncang. Ia amat terpukul dan tercampak ke sudut yang paling sunyi. Air matanya menetes.
Fatma masih mencintai Soekarno. Ia berharap lelaki itu hanya mencintai dirinya. Semua ini tercermin dari sikapnya yang memohon agar Bung Karno dapat disemayamkan di rumahnya di Jalan Sriwijaya Kebayoran Baru. Namun, Pemerintah menolak permintaan itu.
Fatma teguh pendiriannya karena tidak akan datang ke Wisma Yaso – rumah Ratna Sari Dewi – hanya bisa mengirim karangan bunga. Sebuah tulisan tangan Fatma berbunyi “Tjintamu menjiwai rakyat. Tjinta Fat".
Ketika Bung Karno akan dimakamkan terjadi perundingan antara Hoegeng, Kepala Polisi RI yang bertindak sebagai wakil keluarga Bung Karno dengan Alamsyah Prawiranegara dan Tjokropranolo yang menjadi asisten pribadi Soeharto.
Baca Juga : Jargon Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Ternyata Dikutip dari Surat Ad Dhuha
Sejak awal Bung Karno menginginkan dimakamkan di Bogor. Namun, Soeharto memutuskan untuk memakamkan di Blitar, dengan alasan dekat dengan ibunda Soekarno.
Siang harinya, jenazah Bung Karno dibawa ke Blitar lewat Malang dengan menggunakan pesawat Hercules dari Halim Perdana Kusuma. Perjalanan dilanjutkan melalui jalan darat ke Blitar, menembus rakyat yang memenuhi sepanjang perjalanan sampai makam.
(Erha Aprili Ramadhoni)