JAKARTA - Tersangka dugaan malapraktik suntik filler payudara abal-abal berinisial SR, menyasar para model media sosial (medsos) untuk datang ke tempat praktiknya. Ia juga memaksimalkan para pasiennya untuk mengajak orang lain dengan iming-iming harga murah.
"Jadi saat ini berdasarkan hasil penyidikan kami, terkait yang menjadi korban dari tersangka SR ini adalah model-model di media sosial," ujar Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat AKBP Teuku Arsya Khadafi Arsya saat konferensi pers, Selasa (6/4/2021).
Arsya mengatakan, dalam usaha prakteknya, SR tidak banyak melakukan promosi besar-besaran di media sosial. Ia menjelaskan, strategi pemasaran yang digunakan adalah dengan metode getok ular atau dari mulut ke mulut.
"Buat testimoni, jadi seandainya ada orang yang pengen disuntik, dengan harga normal sekali suntik adalah 3 juta untuk yang 250 cc, tapi jika dia bisa membawa pasien baru semisal dua orang nanti dapet diskon jadi dia tidak bayar 3 juta. Dia buat penjualan dari kegiatan filler ini cukup banyak karena korban giat mencari pasien-pasien baru untuk SR," tuturnya.
Arsya menjelaskan, sebelum membuka praktek penyuntikan filler tersebut, awalnya SR mencoba membeli cairan filler kepada tersangka ML yang sudah diamankan polisi, sebanyak 15 paket atau 15 liter. SR kemudian belajar dengan dokter privatnya, sekaligus mencoba menyuntikan dirinya sendiri.