Aam pun menjelaskan bahwa kejadian debris flow atau banjir bandang dengan aliran air berkecepatan tinggi yang berisi batu-batu gunung menjadi salah satu penyebab mengapa di tiga Kabupaten ini terdampak terparah khususnya di Adonara.
Baca: BMKG Imbau Warga NTT Tak Termakan Informasi Hoaks Badai Seroja Susulan
“Ada dua kejadian yang dominan di Adonara pertama adalah debris flow. Debris flow ini mungkin selama ini kita kenal dengan banjir bandang, tapi di sini bukan banjir bandang. Debris flow ini adalah aliran dengan kecepatan tinggi yang berisi batu-batu gunung dari atas ke bawah,” paparnya.
Apalagi, kata Aam, di Adonara khususnya di kecamatan Ile Boleng menjadi terdampak paling parah dengan jumlah korban jiwa mencapai 55 jiwa dan 1 hilang. “Data terakhir per kemarin bahwa Kecamatan Ile Boleng itu korban jiwa meninggal 55 jiwa dan hilang 1 jiwa. Ini merupakan kecamatan yang mungkin mencatatkan jumlah kematian paling tinggi,” katanya.
“Sehingga kita perlu benar-benar melihat dan mempelajari mekanisme yang terjadi untuk mencegah kerugian bersama terutama di masa depan,” ungkap Aam.
(Fakhrizal Fakhri )