JAKARTA - Pengging adalah sebuah desa yang terletak di Kelurahan Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, tapi sekarang Pengging lebih dikenal oleh masyarakat mencakup 3 Kelurahan yaitu Bendan, Dukuh, dan Jembungan.
Dengan peninggalan yang tersisa adalah pemandian umbul Pengging, Umbul Sungsang, dan makam pujangga Kasunanan Surakarta Hadiningrat Yosodipuro.
Baca juga: Jalur Gaib Rawan Kecelakaan antara Jakarta-Cirebon
Pengging juga mempunyai ritual sebaran apem untuk memperingati bulan Sapar, tradisi ini sudah ada sejak jaman R.Ng Yosodipuro. Hal ini dimulai karena pengaruh R.Ng Yosodipura yang berjasa dalam membawa rakyat Pengging dalam meningkatkan hasil pertanian dan mengusir hama.
R Ng Yosodipuro I (1729-1803) adalah pujangga Jawa yang mumpuni pada masa pemerintahan Pakubuwono II, III, dan IV. Ia sebenarnya memiliki peran dan jasa besar dalam mengembangkan sastra Jawa modern.
Baca juga: Pangeran Diponegoro Dibantu Kesultanan Turki Utsmani?
“Karena ketokohannya, wangsit yang disampaikannya sebelum wafat terus diikuti masyarakat hingga saat mi. Yosodipuro I mengamanatkan kepada warganya agar kuburnya diberi janur kuning agar mendapat kejernihan pikiran dan berkah,” papar Sancoyo, juru kunci makam Yosodipuro.
R.Ng Yosodipuro adalah seorang pujangga sekaligus ulama yang menyebarkan agama Islam hidup pada masa pemerintahan Pakubuwono II dikenal sangat dekat dengan kaum petani, karena kearifannya seringkali rakyat Pengging memohon petunjuk termasuk pada saat petani meminta bantuannya untuk mengatasi serangan hama keong mas.
Atas petunjuk R. Ng Yosodipuro para petani mengambil keong mas tersebut kemudian dimasak dengan cara dikukus. Sebelumnya keong tersebut dibalut dengan janur yang dibentuk seperti keong mas.