Usaha keluarga ini hanya mempunyai 3 orang karyawan. “Modal awal hanya ratusan ribu. Kini hasilnya lumayan bisa untuk menyekolahkan anak,” kilahnya.
Bila ternyata pesanan lagi sepi, dia lebih lama menyimpan telur asinya di tempat pengukusan bisa sampai 1 bulan. Tapi apa bila ternyata pesanan lagi ramai atau banyak, maka biasanya waktu yang dilakukan untuk proses pembuatan telur asin lebih memilih waktu yang relatif pendek yaitu 5 sampai 12 hari.
Dan bila musim penghujan, juga bisa mengurangi pesanan telur asin. Untuk mendapatkan bahan telur asin biasanya bu Dirja sudah memiliki pengepul bahan telur asin di seputaran Brebes.
Bila kebetulan ada pesanan banyak, dan membutuhkan bahan telur bebek dalam jumlah besar, maka bu Dirja akan menghubungi pengepul dari daerah luar Brebes, semisal dari wilayah Tegal, Pemalang, sampai Pekalongan.
Dia pernah pula mencoba memasarkan telur asinnya ke Jogjakarta, tapi hasilnya juga belum memuaskan. Faktor yang menyebabkan salah satu kendalanya adalah selera makan masyarakatnya yang mungkin belum terbiasa makan telur asin, akibatnya peminatnya kurang.
“Mungkin karena selara makan orang Jogja terbiasa dengan makanan yang manis-manis seperti gudeg,” ungkapnya.
Meskipun di Jogja terkadang juga ada ‘warteg’, tapi rata-rata pemiliknya untuk masalah membeli telur asin jumlahnya sangat terbatas, tidak lebih dari 5 butir saja yang penting ada.
Tapi bila di daerah Brebes sendiri, sepertinya mengkonsumsi telur asin sudah seperti menjadi kebutuhan pokok. Karena itu tidak heran kadang Ibu Dirja sering mendapat pesanan pembuatan telur asin ratusan butir.
“Itu biasanya pesanan untuk hajatan juga Tahlillan. Kalau untuk hajatan biasanya jumlah pesanan bisa mencapai ratusan telur asin.
Di daerah Brebes memang sering ada orang hajatan yang pesan telur asin pada saya,”ujarnya.
(Arief Setyadi )