Bentuk kakinya seperti bunga pudak terbalik; telapaknya datar di atas tanah; cara berjalannya lembut dan anggun seperti gajah.
Secantik orangnya, juga pakaian yang dikenakan, dia memakai chindi patola warna hijau, diikat dengan sabuk emas lulut, kain luarnya bercorak mega mendung (awan hitam). Kemben atau baju atasnya bercorak jing’gomosi, dihiasi renda emas; jarinya dihiasi cincin mutiara, dan anting-antingnya berpola noto brongto.
Pelipisnya dihiasi pola segara munchar (jamrud dikelilingi batu rubi dan intan), dan dia menarik rambutnya ke atas dalam bentuk glung bobokoran, dan dihiasi bunga cempaka hijau, juga bunga gambir, melati dan bunga-bunga lain.
Di tengah gelung dihiasi peniti emas berhias batu merah diatasnya, dan hiasan bunga emas bentuknya; tubuhnya sangat harum, dan aromanya susah dikenali.
Tiara atau jamang yang dikenakan bergaya sodo saler; gelangnya bergaya glengkana yang serasi dengan jamang. Itulah kecantikan seorang putri beserta pakaiannya yang sangat indah.
Sedangkan tentang laki-laki juga dituliskan dalam buku The History of Java , berdasarkan suatu tulisan berjudul Jaya Langkara.
Keturunan seorang terhormat harus memenuhi tujuh syarat yang tidak boleh tertinggal. Pertama, dia harus berasal dari keturunan yang baik;kedua, dia harus pintar;ketiga, bisa mengendalikan dirinya; keempat, dia harus menguasai sastra;kelima, mempunyai pandangan yang luas;keenam, harus tekun beribadah; ketujuh, bisa memanfaatkan semua kelebihannya tanpa ragu-ragu. Inilah ketujuh hal yang harus diperhatikan.
Pikiran dan hatinya harus tenang dan seimbang. Mampu mengendalikan diri, dan diam apabila perlu, tidak boleh sekali-kali berkata bohong. Dia tidak boleh tamak, dan juga tidak takut mati.
Dia tidak boleh tinggi hati, dan mampu menghibur yang sedang kesusahan. Semua yang dikerjakan akan langsung terlihat hasilnya. Mampu menebak isi hati dan tujuan orang lain, cara berpikirnya harus pintar, waspada, dan aktif.