Melissa, dari Queensland, Australia, mengatakan hubungan dengan kekasihnya mengalami krisis saat ia memutuskan melakukan tes kompatibilitas.
Ia dan kekasihnya menggunakan layanan situs DNA Romance yang mengeklaim "bisa meramalkan kecocokan antara dua orang dengan menggunakan DNA".
Dia mengatakan, di masa lalu dia memiliki banyak pacar, tapi hubungan asmara ini selalu kandas. "Itu seperti saya membuang-buang waktu," ujar Melissa.
Lalu pada 2017 ia bertemu dengan Mez melalui aplikasi kencan Tinder.
Kencan pertama mereka terjadi di Cannes, Prancis.
"Rasanya istimewa. Saya sebenarnya gugup tapi juga ada perasaan bahwa Mez mungkin adalah orang yang saya cari selama ini," ungkapnya.
Namun, hubungannya dengan Mez tak berjalan mulus dan keduanya sempat putus sebentar.
Ketika kembali menjalin hubungan, Melissa meminta Mez ikut tes kompatibilitas genetika.
Hasilnya menunjukkan ia dan Mez cocok 98%.
"Saya tentu sangat bahagia ... ini seperti menjadi konfirmasi bahwa hubungan kami layak untuk diteruskan dan menjadi lebih serius," ujarnya.
Keduanya kemudian menikah dan sekarang tengah menunggu kelahiran anak pertama.
Sementara itu, ahli genetika dari Max Planck Institute for the Science of Human History, di Jerman, Rodrigo Barquera, berpendapat gen-gen HLA "tak bisa memprediksi tingkat kesuksesan hubungan percintaan antara dua orang".
Ia mengatakan hubungan antarmanusia sangat kompleks dan tak bisa hanya diukur dari gen-gen HLA.
Bagi Sienna dan Rodrigo Meneses, perjodohan berbasis DNA sepertinya hal yang mustahil.
Sienna merasa Rodrigo adalah belahan jiwanya, namun karena penasaran, ia memutuskan untuk mengikuti tes kompatibilitas.
Hasilnya, ia dan pasangannya 90% cocok.
"Kami terkejut. Kami memang merasa cocok sejak awal, tapi hasil tes seakan menjadi konfirmasi bagi kami. Jadi ya tentu kami sangat senang dan bahagia," kata Sienna.
(Susi Susanti)