PNA Masud Thoyib Adiningrat Pengageng Kedaton Jayakarta yang juga mantan Manager Budaya TMII mempunyai wayang kulit Bathara Kala raksasa setinggi 4 meter.
"Wayang itu dibuat dari tulang belulang sapi benggala, biaya pembuatan menghabiskan harga satu mobil. Wayang ini menggemparkan acara upacara Suro di TMII. Dicatat sebagai wayang Bathara Kala terbesar di Indonesia. Agustus nanti akan digunakan untk wayangan Ruwat Negari Sudamala," katanya.
Diceritakannnya bahwa proses pembuatqn wayang, ditatah oleh 27 penatah dari kampung penatah terkenal di desa Pucung Yogyakarta. Kemudian disungging oleh kelompok penyungging terkenal Sagio penyungging Kraton Yogyakarta.
"Dibuat untuk acara ritual Suro di TMII dan dinobatkan sebagai wayang Bathara Kala terbesar," ucapnya.
Baca juga: Kisah Keajaiban dan Percakapan Jenderal Sudirman dengan Kiai Wahid Hasyim
Menurutnya yang paling sulit adalah membuat cempuritnya. Jika cempurit wayang kulit biasanya dari sungu tanduk kerbau atau sapi.
Cempurit dalam istilah pedalangan dirumuskan sebagai tiang penyangga wayang kulit atau gapit yang lazimnya terbuat dari tanduk kerbau, bambu, kayu secang.
“Tapi mana ada tanduk yang panjangnya 4 meter?” ujarnya.
Awalnya akan dibuat dari bambu, penjalin atau kayu, tapi tidak akan kuat menahan besarnya wayang. Akhirnya diskusi dengan para ahli.
"Pak Suroso dapat memecahkan persoalan sulit ini dengan merancangnya dari besi yang dibentuk menjadi cempurit wayang," jelasnya
Untuk memainkan wayang berukuran besar ini, dalang harus dibantu 5 penari yang memegang wayang.
Baca juga: Ramal Nasib Lewat Angkat Batu Bobot Mrapen Peninggalan Sunan Kalijaga
Mereka adalah, 2 orang memegang badan wayang, 1 orang memegang kaki wayang, ditambah 2 orang dengan gerak teatrikal dan tari yang menjiwai gerak Raksasa Bathara Kala.
Menurut cerita wayang Purwa. Ini terjadi ketika pada suatu saat Batara Guru bertamasya bersama istrinya, Dewi Uma, menunggang Lembu Andini mengarungi angkasa. Di atas Nusa Kambangan, dalam keindahan pemandangan senja hari, Batara Guru tergiur melihat betis istrinya.
Ia lalu merayu Dewi Uma agar mau melayani hasratnya saat itu juga, di atas punggung Andini. Tetapi istrinya menolak. Selain karena malu, Dewi Uma menganggap perbuatan semacam itu tidak pantas dilakukan.
Karena gairah Batara Guru tak tertahankan lagi, akhirnya jatuhlah kama benihnya ke samudra. Seketika itu juga air laut bergolak hebat. Benih kama Batara Guru menjelma menjadi makhluk yang mengerikan. Dengan cepat makluk itu tumbuh menjadi besar.