Dua vaksin asal China itu berbeda dengan yang lain, terutama Pfizer dan Moderna.
Dikembangkan dengan cara yang lebih tradisional, suntikan itu menggunakan virus yang tidak aktif, yang berarti menggunakan partikel virus yang dimatikan untuk mengekspos sistem kekebalan tubuh tanpa mengambil risiko respons penyakit yang serius.
Sebagai perbandingan, BioNtech/Pfizer dan Moderna merupakan tipe vaksin mRNA. Ini berarti bagian dari kode genetik virus corona disuntikkan ke tubuh, melatih sistem kekebalan untuk meresponsnya.
Sedangkan AstraZeneca asal Inggris merupakan tipe vaksin yang berbeda, yaitu versi virus flu biasa dari simpanse dimodifikasi untuk mengandung materi genetik yang sama dengan virus corona. Setelah disuntikkan, vaksin itu mengajarkan sistem kekebalan tubuh bagaimana melawan virus yang sebenarnya.
BioNTech/Pfizer and Moderna memiliki tingkat efikasi sekitar 90% atau lebih, sedangkan AstraZeneca sekitar 76%.
April lalu, seorang pejabat pengendalian penyakit di China sempat mengatakan tingkat efikasi vaksin buatan negaranya rendah, walau akhirnya dia mengatakan bahwa komentarnya itu disalahrtikan.
(Susi Susanti)