Hingga kini, tak ada yang menanggapnya untuk mementaskan wayang kulit. “Ya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari utang dan sebagainya,” ungkapnya.
Dalang asal Ngawen, Klaten, itu pun mengaku tak tahu pasti nasib orang-orang yang selama ini membantunya ketika pentas sebagai dampak pandemi Covid-19. Setidaknya, ada 25 orang yang terlibat dalam sekali pentas wayang kulit termasuk para pemain karawitan.
Kusni mengakui ada kelonggaran dengan menggelar pentas secara virtual. Sayangnya, pentas secara virtual tak laku untuk wayang kulit.
“Warga belum bisa menerima. Paling satu atau dua orang yang bersedia menggelar pentas secara virtual. Anggapan warga kalau virtual itu tidak boleh menonton,” kata Kusni.
Jual Mobil Innova untuk Bertahan Hidup
Nasib serupa dialami salah satu dalang kondang asal Klaten, Ki Tantut Sutanto (43), yang terdampak pandemi Covid-19. Pria asal Desa Kurung, Kecamatan Ceper, itu sampai menjual satu unit mobil Kijang Innova seharga Rp225 juta.
Selain itu, Tantut menjual satu kotak wayang miliknya seharga Rp120 juta. “Saya jual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” jelas Tantut.
Tantut mengatakan sudah mencoba beralih usaha lain selama tak bisa pentas karena pandemi Covid-19. Seperti bertani hingga berdagang. Namun, hasilnya gagal.
“Saya mencoba bertani menanam lombok. Modal habis Rp6 juta tetapi panennya paling laku Rp50.000,” kata Tantut.