Dalang asal Ceper, Klaten, itu pun mengakui pentas secara virtual sebagai alternatif selama pandemi Covid-19 tak bisa memulihkan kondisi lantaran tak laku. Tantut sampai menawarkan ke berbagai pihak agar ada yang bersedia menanggap pentas wayang kulit secara virtual namun tak banyak yang berbuah hasil.
“Justru secara virtual kami yang jemput bola. Kami mencoba menghubungi mereka yang cinta wayang kulit. Saya tiga kali pentas virtual, tombok saron satu set. Satu set saron yang seharusnya seharga Rp10 juta terpaksa dijual hanya Rp6 juta untuk menutup kebutuhan pentas,” kata Tantut.
Tulang Punggung Keluarga
Tantut mengaku hingga kini masih mempertahankan sebagaian alat pentas wayang kulit yang dia miliki. Namun, jika kondisi tak kunjung membaik dan tetap sepi tanggapan pentas wayang kulit, bisa jadi pada Agustus mendatang ia akan menjual seluruh peralatannya demi menutup kebutuhan hidup.
Dalang lainnya asal Klaten, Gatot Purwopandoyo (32), juga terpaksa menjual satu unit mobil serta tanah warisan dari orang tuanya di Blitar demi menutup kebutuhan hidup selama pandemi Covid-19. Hal itu lantaran Gatot merupakan tulang punggung keluarga.
“Kami memohon kepada pemerintah memberikan kelonggaran di dunia pedalangan,” kata dalang asal Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum tersebut.
(Awaludin)