Melihat Jejak Perusahaan Perkebunan Serat Terbesar Hindia Belanda di Wonogiri

Agregasi Solopos, Jurnalis
Senin 14 Juni 2021 06:45 WIB
Aktivitas perusahaan perkebunan serat Mento Toelakan di Wonogiri (Foto: Ist/Arsip Digital Universitas Leiden)
Share :

Menurut hasil penelitian Dennys dan rekan-rekannya, perusahaan itu berdiri pada 1897 dan berakhir pada akhir 1940-an ketika masa revolusi kemerdekaan. Ada pun luas perkebunan perusahaan itu sekitar 1.000 hektare.

Perusahaan milik swasta dari Belanda. Pemilik dan kepala kebun perusahaannya pun berganti-ganti. Di perkebunan itu, kata Dennys, ada tiga jenis tanaman serat. Ada serat Nanas atau dikenal dengan sebutan serat Konas, serat tumbuhan Rami dan serat Yute Jawa. Selain itu ada tumbuhan kapas dan kapuk.

Membuat Tali Tambang Kapal

 

"Pengolahannya itu daun tumbuhan diambil dan direndam di kolam. Kemudian dipintal atau digulung sebelum dibuat berbagai jenis produk. Serat yang bagus itu tingginya hingga dua meter," katanya saat ditemui di kawasan Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri.

Serat yang dihasilkan dari kebun itu berkarakter kuat sehingga digunakan juga untuk membuat tali tambang kapal, karung goni, benang, tas jaring, tempat tidur gantung, kabel, tikar, dan alat senam.

Dennys menuturkan tumbuhan yang ditanam di Kebun Mento Toelakan berasal dari Benua Amerika. Meski berada di pinggiran Wonogiri, tumbuhan itu cocok ditanam di sana dan menghasilkan olahan serat terbaik.

Tak mengherankan, pada saat itu perusahaan perkebunan di Wonogiri itu mendapatkan dua penghargaan yakni penghasil serat nanas dan serat yute jawa terbaik di Hindia Belanda pada 1911. Selain itu Mento Toelakan menjadi Pusat Pembibitan serat nanas dan Percobaan Traktor perkebunan (Fordson) pada abad ke-20.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya