4. Erupsi 2010
Letusan gunung Merapi pada 2010 merupakan salah satu bencana alam terdahsyat yang pernah terjadi. BNPB menyebut, level Merapi berubah menjadi ‘awas’ pada 25 Oktober 2010 dan mengalami erupsi pertama pada 28 Oktober 2010.
Lalu, Merapi mengalami erupsi lanjutan hingga awal November 2010. Kerusakan yang diakibatkan oleh erupsi Merapi kali ini berdampak luas pada sektor sosial, ekonomi, dan infrastruktur.
Material semburan yang terjadi mengakibatkan kerusakan di beberapa dusun yang berada di kabupaten Sleman. Ribuan rumah penduduk diketahui tertimbun.
Sementara itu, awan panas menyembur sejauh 8 km ke arah kali Opak, Gendol, Bedog dan Krasak. Tak hanya menyasar wilayah Yogyakarta, hujan abu juga terjadi di Kebumen, Cilacap, Banyumas dan Ciamis.
Tercatat, sebanyak 2.682 rumah warga mengalami kerusakan berat dengan total kerugian sebesar Rp 3,62 triliun (sesuai data yang dihimpun BNPB per 31 Desember 2010).
Untuk data korban jiwa, BNPB melaporkan sebanyak 277 orang meninggal di wilayah Yogyakarta dan 109 orang meninggal di wilayah Jawa Tengah. Dalam tragedi inilah, sang juru kunci Merapi, mbah Maridjan turut tewas akibat serangan awan panas yang menyapu tempat tinggalnya.
5. Erupsi 2020
Gunung Merapi kembali erupsi pada 3 Maret 2020 lalu, pukul 05:22 WIB. Menurut data yang dibuat oleh PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) Kementerian ESDM, erupsi tersebut menyebabkan membumbungnya abu vulkanik setinggi 6 km di atas puncak gunung atau kurang lebih 8 km di atas permukaan laut.
PVMG juga mengamati, abu vulkanik yang timbul umumnya berwarna putih sampai abu-abu dan mengarah ke utara. Erupsi ini terekam selama 450 detik di seismograf. Akibatnya, masyarakat yang tinggal dalam radius 3 km dari puncak Merapi diwajibkan mengungsi dan mengosongkan area.
(Khafid Mardiyansyah)