H. J DE GRAAF dan T.H. Pigeaud di buku ‘Kerajaan Islam Pertama di Jawa’, terjemahan Jakarta: Pustaka Utama Grafiti menceritakan pemberontakan kadipaten Pati terhadap Kerajaan Mataram era Sultan Agung.
Adipati Pragola II, beristrikan Raden Ajeng Tulak atau Ratu Mas Sekar yg merupakan Adik Sultanbl Agung. Maka, Adipati Pragola II adalah adik ipar Sultan Agung.
Pada masa kepemimpinanya, sang adipati meneruskan kebijakan ayahnya, yang menyatakan bahwa Pati dan Mataram sederajat. Ia tidak mau mengikuti Pisowanan Agung yang diwajibkan bagi bawahan Mataram.
Baca juga: Kisah Pesantren Internasional Sunan Giri yang Ditaklukkan Sultan Agung
Awalnya, Sultan Agung masih membiarkan ketidakhadiran adik iparnya itu. Daerah Pati, termasuk wilayah basis kekuatan bagi Mataram, dan Kadipaten yang paling kuat karena satu-satunya wilayah yang belum terkalahkan.
Akhir dari hubungan Mataram-Pati, adalah dengan meletusnya Perang Pati. Penyerangan Pati ke Jepara karena sebuah konflik.
Namun, oleh Patih Endranata, Pati dilaporkan akan memberontak dari Mataram. Akibatnya, Sultan Agung memutuskan untuk menyerbu Pati dari tiga penjuru, yaitu Timur, Selatan dan Barat.
Baca juga: Ketika Makam Gaib Sultan Agung Muncul di Giriliyo
Ratusan ribu prajurit Mataram dikerahkan untuk menghancurkan Pati. Sebagai Senapatinya, Mataram menunjuk Tumenggung Alap-Alap.
Pasukan dari arah Timur, yang dipimpin Adipati Martoloyo membawai pasukan Mancanegara, dan bermukim di Pekuwon Juwana bagian timur.
Pasukan Mataram dari arah selatan dipimpin oleh Pangeran Madura yg membawahi prajurit Kedu, Begalan dan Pamijen, pasukan ini mendirikan tenda-tenda perkemahan di kaki Gunung Kendeng sekitar daerah Cengkalsewu sebelah selatan Pati.