Ibu Amsi, seperti halnya Inggit, dan jutaan rakyat Indonesia, termasuk pengagum berat Bung Karno. Syahdan, ketika Inggit berunding bersama saudara-saudaranya di Bandung, tentang ikut-tidaknya Inggit ke pembuangan, ibu Amsi muncul mendadak dan menyatakan sikapnya, “Saya juga ikut (ke pembuangan)”.
Inggit dalam buku “Kuantar ke Gerbang” menuturkan, di antara kerabatnya, terdapat silang pendapat. Antara yang setuju Inggit mendampingi Bung Karno ke pembuangan, dengan pendapat yang menyatakan sebaiknya Inggit tidak ikut.
Dalam penuturannya, Inggit juga mengisahkan, jauh di dasar hati, sudah terpancang tekad akan setia mendampingi Bung Karno.
Bung Karno sendiri sempat bertanya ragu kepada Inggit, “Kumaha Enggit, enung, bade ngiring? (Bagaimana Inggit, sayang, akan ikut?). Akan ikut ke pembuangan atau tinggal di Bandung saja? Yang dibuang itu tidak tahu kapan ia akan kembali. Entah untuk lama, entah untuk sebentar. Entah untuk selama-lamanya. Tak berkepastian. Terserah kepadamu, Enggit….”
Inggit cepat menjawab, “Euh kasep (Ah, sayang), jangankan ke pembuangan, sekalipun ke dasar lautan aku pasti ikut. Kus jangan was-was mengenai itu, jangan ragu akan kesetiaanku”.
Keesokan harinya, di stasiun Bandung, betapa gembira Bung Karno saat melihat Inggit menyertai, diikuti pula ibu mertuanya, ibu Amsi, beserta Ratna Djuami, dan dua orang pembantu, Muhasan (Encom) dan Karmini.
Sungguh besar makna ibu Amsi. Sekalipun dia sudah cukup usia, dan sering sakit-sakitan, tetap menunjukkan semangat mengikuti anak, cucu, dan menantu ke tanah interniran yang tak terbayang di mana letak dan jauhnya.
Di Ende, di tanah buangan, dalam banyak kisah dilukiskan, betapa ibu Amsi menyemangati Inggit untuk menyemangati Bung Karno. Jika dilihatnya Bung Karno duduk murung di belakang rumah, ibu Amsi segera mencari Inggit.
Apa pun yang sedang dikerjakan Inggit, memasak atau menjahit, dimintanya untuk segera dihentikan. Inggit disuruhnya menemani Bung Karno, mengajak bicara, membangkitkan semangatnya, dan mencerah-ceriakannya kembali.
Ibu Amsi pula yang meminta Inggit menyiapkan makanan-makanan kesukaan Bung Karno di Bandung, di antaranya sari kacang ijo, sayur lodeh, dan lain-lain.
Ibu Amsi, ibu mertua yang sadar peran dan fungsi, dalam ikut menjaga semangat Bung Karno. Semangat menggelora untuk memerdekakan bangsanya. Di akhir riwayat, Bumi Ende-lah yang ditetapkan Tuhan, untuk memeluk jazad wanita mulia itu.
Bumi Ende dan masyarakat Ende, bisa dikata telah menyatu dengan ibu Amsi. Tanpa diminta, warga Ende, terutama kerabat dan keturunan sahabat-sahabat lama semasa pembuangan Bung Karno, masih menziarahinya.
Tragedi gempa bumi di Ende tahun 1992, mengakibatkan makam ibu Amsi terurug longsoran tanah sehingga tak lagi tampak wujud nisannya.
Adalah seorang warga bernama Abdullah, yang tinggal tak jauh dari makam ibu Amsi, spontan menyingkirkan longsoran tanah, membersihkan makam ibu Amsi, diikuti warga yang lain, sehingga makam itu tetap terjaga sampai sekarang.
(Sazili Mustofa)