Cetak Sejarah, Porter Perempuan di Machu Picchu: Kami Diberi Kesempatan Akhiri Diskriminasi

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Senin 09 Agustus 2021 17:57 WIB
Para perempuan pertama bekerja di Inca Trail pada 2017. (Foto: Evolution Treks Peru)
Share :

"Di komunitas saya, tak banyak orang yang menyelesaikan pendidikan," tutur Zamalloa kepada saya, ketika dan rekan kerjanya sesama pemandu duduk mengelilingi meja dapur di Cusco.

"Sekolah kami berjarak tiga jam dan untuk pulang kami harus menempuh tiga jam perjalanan lagi. Para orang tua menikahkan anak-anak mereka ketika berusia 13 tahun. Saya ingin mengubah ketidakadilan ini."

Dengan hasrat akan petualangan, Zamalloa yang berusia delapan tahun bergabung dengan ibunya dalam perjalanan bus selama 15 jam pindah ke Calca, dekat Cusco City, untuk menjual sayuran di pasar lokal.

Seiring bertambahnya usia, ia mencari pekerjaan, bersekolah di sekolah menengah dan belajar pariwisata selama tiga tahun di perguruan tinggi.

Inca Trail dan kemungkinan akan dunia baru bahkan tidak ada di radarnya sampai 2016, ketika ia bertemu Miguel Angel Góngora, salah satu pemilik Evolution Treks Peru, sebuah perusahaan trekking yang berbasis di Cusco, yang mengundangnya bergabung dalam program khusus porter perempuan di Inca Trail.

"Saya ingat tanggal trek pertama saya dengan sangat baik. 27 Maret 2018," ujarnya.

"Itu adalah awal mula dari kehidupan yang lain bagi saya.

Inca Trail menuju Machu Picchu adalah bagian dari jaringan trekking yang luas di Amerika Latin yang mengintegrasikan Tahuantinsuyo - Kekaisaran Inca - yang berkuasa pada abad ke-15 dan ke-16.

Hanya suku Inca, kaisar kerajaan, yang diizinkan di bagian jalan setapak ini, saat ia berziarah ke situs suci Machu Picchu, menghormati pegunungan dan puncak gunung di sepanjang perjalanan ziarahnya.

"Penemuan" Machu Picchu oleh arkeolog Amerika, Hiram Bingham, pada awal 1900-an membawa perhatian dunia ke jejak perjalanan yang sebelumnya tidak diketahui dunia Barat.

Para Trekker pemberani pada dekade berikutnya menggunakan peta buatan warga lokal untuk menemukan jalan mereka ke "Kota Emas yang Hilang" yang legendaris.

Pada era 1970an, operator tur mulai mempekerjakan para pria dari desa-desa di Desa Sakral sebagai porter untuk memimpin perjalanan para pendaki gunung di rute ini.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya