PERIODE abad ke-10 hingga abad 13 masehi dalam catatan Momoki Shiro, peneliti sejarah dari Universitas Osaka, Jepang adalah zaman merebaknya perdagangan lintas samudera di Asia.
Momoki Shiro mengajukan tesis tentang poros Sriwijaya-Nalanda. Dalam buku Offshore Asia, Momoki bersama Anthony Reid dan beberapa peneliti lain menulis tentang strategisnya peran Sriwijaya sebagai penghubung perdagangan antara Laut Hindia dengan Laut Cina Selatan, dan Nalanda melalui Cola di India Selatan sebagai penghubung antara Pantai Timur Afrika hingga Teluk Persia.
Ciri khas periode ini adalah munculnya kerajaan-kerajaan dengan sistem Mandala. Sistem Mandala adalah sistem kerajaan yang kekuasaannya tidak terpusat. Kekuasaan terdistribusi ke dalam wilayah-wilayah yang relatif otonom.
Wilayah-wilayah itu hanya berkewajiban untuk memberikan upeti kepada pusat kekuasaan atau mengikuti satu sistem kekerabatan politik dari perkawinan yang mempunyai keterwakilan di pusat kekuasaan. Kerajaan-kerajaan Nusantara dari Sriwijaya, Majapahit, hingga Mataram mempunyai cetak biru yang sama. Denys Lombard menyebutnya sebagai Kerajaan-kerajaan Konsentris.
Baca juga: Di Mana Letak Kerajaan Sriwijaya, Palembang, Jambi, Lampung, Riau, atau Thailand?
Sementara itu data-data sejarah tentang kerajaan Nalanda di India tidak sebanyak kerajaan-kerajaan Nusantara. Dalam periode merebaknya perdagangan samudera di Asia, sezaman dengan kekuasaan Sriwijaya di Kepulauan Melayu, Selat Malaka, hanya terdapat nama kerajaan Cola di India Selatan.
Istilah mandala menempel pada kerajaan Cola yang membuat dia dikenal sebagai Cola Mandala. Nama inilah yang kemudian diserap dalam perbendaharaan pelaut-pelaut Portugis yang menguasai Goa dan Srilangka sebagai Coromandel.
Baca juga: Misteri Candi Muara Takus, Ada Gerombolan Gajah Berziarah di Masa Lampau
Kerajaan Cola ini pula yang dalam catatan arkeologis dikatakan pernah menyerbu salah satu wilayah kekuasaan Sriwijaya di Kadaram atau Tanah Kedah. Cambridge Shorter History of India, bahkan menyebutkan serangan kerajaan Cola ke Bihar pada abad ke-11 masehi.
Jika sistem Mandala, diandaikan berlaku di antara dua poros Nalanda dan Sriwijaya, bisa jadi peperangan yang terjadi antara kerajaan Cola dan Kadaram hanyalah perebutan wilayah-wilayah semi otonom.
Catatan I-tsing atau Yi-Jing, peziarah dari dinasti Tang di abad ke-7, bahkan mencatat jaringan peziarah yang belajar Buddha yang singgah di Sriwijaya sebelum melanjutkan ke Nalanda yang letaknya ada di kaki pegunungan India bagian barat laut.
Periode "perdagangan bebas" di sekitar Samudera Hindia adalah tempat bertemunya bangsa-bangsa pedagang. Di pelabuhan-pelabuhan persilangan penting seperti Aden, Oman, Basrah, Siraf, Gujarat, Coromandel, Pegu, Ayyuthya, Campa, Pasai, Malaka, hingga Palembang sangat mudah dijumpai berbagai suku bangsa.
Orang Yahudi dari Aden, bisa bertemu dengan Arab dari Oman, berlayar bersama dengan orang-orang Persia yang menyebar dari Basrah hingga Gujarat. Bertukar barang-barang dengan orang-orang Kaling di Coromandel. Membeli beras dan air dari Pegu. Masuk ke bandar besar Ayyuthya dan Campa, atau mendapatkan hasil-hasil hutan terbaik dari Pasai, Malaka, dan Palembang.
Baca juga: Tim Arkeolog Teliti Prasasti Talang Tuo Peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Di setiap zaman komoditas-komoditas yang diperdagangkan berkembang sedemikian rupa. Jika di masa sebelum Islam, rempah-rempah hasil hutan bisa menjadi barang yang paling mahal. Setelah kemunculan Islam rempah-rempah hasil hutan mulai bergeser menjadi rempah-rempah yang bisa bernilai pengobatan.
Sumber paling utama adalah kepulauan Nusantara bagian timur. Setelah masuknya bangsa Eropa ke bandar-bandar Asia Tenggara, kembali rempah-rempah bernilai tinggi menjadi komoditas utama. Perbedaannya pada periode ini rempah-rempah sudah menjadi hasil pertanian dan perkebunan. Lada, cabai, pala, dan cengkeh adalah sumbang saham antar berbagai kawasan. Periode berikutnya tembakau, kopi, candu, hingga tebu adalah pengantar menuju zaman kolonial.
Baca juga: Cerita Warga Mendapat Serbuk Emas yang Diyakni Harta Karun Kerajaan Sriwijaya
(Fakhrizal Fakhri )