Catatan I-tsing atau Yi-Jing, peziarah dari dinasti Tang di abad ke-7, bahkan mencatat jaringan peziarah yang belajar Buddha yang singgah di Sriwijaya sebelum melanjutkan ke Nalanda yang letaknya ada di kaki pegunungan India bagian barat laut.
Periode "perdagangan bebas" di sekitar Samudera Hindia adalah tempat bertemunya bangsa-bangsa pedagang. Di pelabuhan-pelabuhan persilangan penting seperti Aden, Oman, Basrah, Siraf, Gujarat, Coromandel, Pegu, Ayyuthya, Campa, Pasai, Malaka, hingga Palembang sangat mudah dijumpai berbagai suku bangsa.
Orang Yahudi dari Aden, bisa bertemu dengan Arab dari Oman, berlayar bersama dengan orang-orang Persia yang menyebar dari Basrah hingga Gujarat. Bertukar barang-barang dengan orang-orang Kaling di Coromandel. Membeli beras dan air dari Pegu. Masuk ke bandar besar Ayyuthya dan Campa, atau mendapatkan hasil-hasil hutan terbaik dari Pasai, Malaka, dan Palembang.
Baca juga: Tim Arkeolog Teliti Prasasti Talang Tuo Peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Di setiap zaman komoditas-komoditas yang diperdagangkan berkembang sedemikian rupa. Jika di masa sebelum Islam, rempah-rempah hasil hutan bisa menjadi barang yang paling mahal. Setelah kemunculan Islam rempah-rempah hasil hutan mulai bergeser menjadi rempah-rempah yang bisa bernilai pengobatan.
Sumber paling utama adalah kepulauan Nusantara bagian timur. Setelah masuknya bangsa Eropa ke bandar-bandar Asia Tenggara, kembali rempah-rempah bernilai tinggi menjadi komoditas utama. Perbedaannya pada periode ini rempah-rempah sudah menjadi hasil pertanian dan perkebunan. Lada, cabai, pala, dan cengkeh adalah sumbang saham antar berbagai kawasan. Periode berikutnya tembakau, kopi, candu, hingga tebu adalah pengantar menuju zaman kolonial.
Baca juga: Cerita Warga Mendapat Serbuk Emas yang Diyakni Harta Karun Kerajaan Sriwijaya
(Fakhrizal Fakhri )