Robert pun menunduk, ia harus mengakui bahwa orang yang di depannya, yang ia sebagai tentara ditugaskan untuk memata-matainya, ialah bapak kandungnya, Untung Surapati. Dari pembicaraannya dengan anaknya pula, Surapati akhirnya juga tahu bahwa Suzanna tidak pernah menikah lagi hingga akhir hayatnya.
“Sesudahnya engkau lahir, apakah mamamu kawin lagi dengan Tuan Ajudan Kuffeler?” tanya Surapati.
“Jangan bicara begitu. Aku punya mama bersetia seumur hidupnya dengan laki-laki yang sekali dicintainya, yang diakuinya sebagai suaminya yang sah! Sekalipun mamaku tidak pernah kawin lagi,” demikian jawab Robert.
Ingin membalas budi semua kebaikan hati kekasihnya Suzanna, Surapati menumpahkan rasa kasihnya kepada anaknya Robert. Ia menawarkan pada Robert untuk membantunya melaksanakan cita-citanya, yaitu membangun persekutuan antara Surapati dan VOC. Atau jika hal itu tidak mungkin diwujudkan, ia mengajak Robert turut bertempur dengan ayahnya melawan VOC.
Selain itu, Surapati juga menawarkan posisi putra mahkota kepada Robert sebagai pengganti dirinya kelak dan menjadi raja di Pasuruan. Hati Robert terbelah. Namun ternyata unsur Belanda lebih keluar sebagai pemenang dibandingkan unsur bumiputra dalam darah dan jiwanya.
“Bapak, jika aku terima permintaanmu, maka sama saja aku berkhianat pada negeriku. Aku bersumpah tetap setia pada ayah punya musuh, aku tidak boleh berkelahi dengan saudara-saudaraku, anak dari satu bendera Belanda.” (din)
(Rani Hardjanti)