JAKARTA - Kedua bapak pendiri bangsa Indonesia terkenal akan kegemaran mereka dalam membaca buku. Awal mula kecintaan presiden pertama RI, Bung Karno dalam membaca buku dimulai ketika menelusuri semua buku yang dimiliki ayahnya.
Sang putri, Rachmawati mengaku bahwa sang ayah layaknya ensiklopedi berjalan, yang menjadikan membaca buku sebagai hobinya jika tidak ada tamu di istana. Sedangkan kegemaran Bung Hatta dalam membaca buku juga terbukti dari dirinya yang tidak bisa terpisah jauh dari buku-bukunya.
Bahkan ketika Hatta diasingkan oleh Kolonial Belanda ke Banda Neira dan Boven Digul, ia membawa 16 peti bukunya untuk dibaca disana. Lantas apa saja buku-buku kesukaan Hatta dan Soekarno? Berikut daftarnya:
1. Het Jaar 2000
Buku bertajuk Het Jaar 2000 karya Bellamy ini menjadi buku pertama yang dibaca oleh Hatta. Buku itu merupakan pemberian dari pamannya bernama Mak Etek Ayub, bersamaan dengan buku lainnya yaitu Staathuishoudkunde (Ekonomi Negara) dua jilid karya NG Pierson dan De Socialisten (Kaum Sosialis) enam jilid karya HP Quack. Hatta membaca buku pertamanya itu pada malam hari hingga tengah malam.
Keesokan harinya pun ia melanjutkan membaca buku tersebut hingga selesai pada hari itu juga. Kegemarannya pada buku karya Bellamy itu terbukti ketika ia membacanya tiga kali berturut-turut.
2. Der Weg Zur Macht (Jalan Menuju Kekuasaan)
Buku yang ditulis oleh Karl Kautsky, seorang tokoh Jerman ahli teori Marxisme berdarah Yahudi yang berjudul Der Weg Zur Macht (Jalan Menuju Kekuasaan), merupakan bacaan kesukaan Bung Karno saat sedang diasingkan. Buku ini ditulis dalam font Gothic Jerman.
Bung Karno memang memiliki kegemaran membaca buku dari berbagai jenis bahasa, seperti Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman. Selain itu Soekarno juga memperlihatkan ketertarikannya pada buku-buku tentang aliran Marxisme, yang salah satunya terdapat pada buku karya Kautsky ini.
Pada gambar buku yang diunggah oleh Galeri Kebudayaan Kemdikbud melalui laman resminya, terpampang tanda tangan Soekarno pada halaman depan buku miliknya itu.
3. Geschiedenis van het Moderne Imperialisme
Buku terbitan 1925 karya Jan Steffen Bartstra yang merupakan sejarawan sosialis Belanda ini menjadi kesukaan Bung Karno. Hal itu lantaran buku ini diberikan oleh kawan sejawat Bandung, ketika dirinya diasingkan dan berada dalam kurungan.
Buku berbahasa Belanda yang dibacanya itu menceritakan sejarah Hindia Belanda secara kronologis, yang dibuat dalam lima jilid. JS Bartstra juga menguraikan dalam bukunya ini bahwa imperialisme adalah suatu kehausan dan nafsu, serta sistem menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri lain.
Balai Kirti Kemdikbud mengunggah potret buku itu, yang pada halaman judulnya memuat tanda tangan asli Soekarno. Kemudian juga terlihat pada halaman 6 dan 7 buku tersebut, berbagai coretan yang ditulis Soekarno sebagai catatan di tepi halaman.
(Khafid Mardiyansyah)