Kepada Ken Dedes, Tunggul Ametung menyebut, perempuan cantik seperti Ken Dedes tidak layak hidup di desa terpencil. Ia lebih layak berada di istana atau duduk di singgasana sebagai permaisuri. Selanjutnya, Tunggul Ametung menarik badan Ken Dedes dan merekatkan ke tubuhnya. Tunggul Ametung pun mendekap tubuh cantik Ken Dedes dan menempelkan pada dadanya yang penuh bulu.
Perlawanan Ken Dedes seolah sia – sia, kencangnya genggaman tangan Tunggul Ametung membuatnya hanya bisa meronta – ronta. Semakin meronta – ronta meminta dilepaskan, cengkeraman tangan Tunggul Ametung kian kuat.
Alhasil, Ken Dedes hanya bisa memberikan sumpah serapah dan memaki Tunggul Ametung. Dirinya pun harus pasrah kalah kuat dengan tenaga Tunggul Ametung. Perempuan cantik ini tak bisa berbuat banyak dan harus rela diculik oleh Tunggul Ametung untuk dibawa istananya. (din)
(Rani Hardjanti)