Patung tersebut sebelumnya berasal dari situs Kandang Gajak, Trowulan, yang pada tahun 1817 dipindahkan ke Surabaya oleh Residen Baron A. M. Th. de Salis. Patung tersebut oleh masyarakat sekitar disebut dengan sebutan Joko Dolog.
Tak hanya itu, konon Raja Kertanegara saat berkuasa kerap kali memecat pada pejabat yang berani menentang kebijakannya. Di antara pejabat Singasari yang pernah dipecat antara lain Mpu Raganata yang diturunkan dari jabatan rakryan patih menjadi ramadhyaksa. Orang - orang yang ditunjuk sebagai penggantinya adalah para pejabat yang dikenal sangat penurut.
Pengganti Mpu Raganata misalnya diisi oleh Kebo Anengah dan Panji Angragani. Sedangkan Arya Wiraraja yang terkenal sosok pembangkang akhirnya dimutasi jabatannya sebagai rakryan demung oleh Kertanegara. Arya Wiraraja dimutasi menjadi Bupati Sumenep, kelak Arya Wiraraja inilah yang akhirnya juga membantu Raden Wijaya untuk menumbangkan kekuasan Jayakatwang dari Kediri dan membangun Kerajaan Majapahit.
Bongkar pasang pejabat inilah yang menyebabkan banyak ketidakpuasan dari pejabat istana dan rakyat Singasari. Di antara yang merasa kecewa dengan perombakan tersebut adalah Kalana Bhayangkara. Akibat ketidakpuasannya, Bhayangkara pun melakukan pemberontakan pada tahun 1270. Dimana di dalam naskah Negarakertagama, Bhayangkara yang disebut sebagai Cayaraja, melakukan pemberontakan, tapi berhasil ditumpas oleh Raja Kertanegara.
Di Negarakertagama disebutkan pula terdapat pemberontakan Mahisa Rangkah pada tahun 1280. Mahisa Rangkah sendiri adalah pejabat Kerajaan Singasari yang begitu dibenci oleh rakyat Singasari. Kedua pemberontakan ini berhasil diredam oleh Raja Kertanegara.
(Awaludin)