RANGGALAWE tewas di tanah Mahisa Sabrang dalam pertempuran antara pasukan Majapahit dan Tuban. Tewasnya Ranggalawe inilah yang memicu terbelahnya pemerintahan Majapahit menjadi dua.
Berikut sejumlah momen pertempuan epik ini, dikisahkan dalam buku "Hitam Putih Kekuasaan Raja - Raja Jawa Intrik, Konspirasi Perebutan Harta, Tahta, dan Wanita" tulisan Sri Wintala Achmad.
1. Berawal dari Murka Raja
Pertempuran tersebut berawal dari murkanya Dyah Wijaya raja Majapahit periode 1309 - 1293, setelah kerajaannya dikalahkan Ranggalawe.
Dyah Wijaya pun bersumpah akan mengalahkan Ranggalawe. Dia berujar akan menghancurkan Kotapraja Majapahit sendiri, bila tak berhasil menaklukkan Ranggalawe.
2. Lembu Sora Tawarkan Diri
Alhasil Dyah Wijaya dan pasukannya langsung kembali menyusun strategi menyerang Tuban. Lembu Sora lantas meminta izin kepada Dyah Wijaya untuk menghadapi Ranggalawe. Dyah Wijaya pun mengizinkan. Hal itu juga untuk menghindari banyak korban karena menyadari kekuatan Tuban.
Baca juga: Majapahit di Era Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Masyarakat Muslim Bermukim di Ibu Kota
3. Ranggalawe Dikepung dari Tiga Arah
Pertempuran sengit pun terjadi. Konon Ranggalawe dikepung dari tiga arah, Mahisa Nabrang dari timur, Gagak Sarkara dari barat, dan Majang Mekar menyerbu dari arah utara. Pertempuran sengit terjadi di arah timur antara pasukan Ranggalawe dengan pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Mahisa Nabrang.
Kuda Mahisa Nabrang berhasil dilumpuhkan oleh Ranggalawe, namun penunggangnya berhasil menyelamatkan diri. Hari selanjutnya, Mahisa Nabrang yang giliran melawan Ranggalawe. Perang itu berlangsung di seberang Sungai Tambak Beras.