Komite PBB Menentang Penyiksaan, memandang posisi stres ini sangat bertentangan dengan Konvensi Menentang Penyiksaan.
Menurut kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), setidaknya 182 orang, termasuk anak-anak, telah ditahan menggantikan anggota keluarga mereka sejak kudeta - dan 141 di antaranya masih ditahan.
Kelompok tersebut mencirikan penangkapan ini sebagai penyanderaan, dan menekankan tindakan militer melanggar hukum internasional.
Menurut AAPP, ketika anak-anak ditahan, mereka tidak dikirim ke penjara, seperti Insein yang terkenal kejam di mana ribuan pengunjuk rasa pro-demokrasi ditahan.
Sebaliknya, mereka dikirim ke pusat interogasi, tahanan polisi, barak militer atau kantor administrasi junta.
"Anak-anak yang ditahan sebagai sandera ditempatkan di sel yang sama dengan keluarga mereka. Tapi rincian pasti di dalam tahanan sulit untuk dikonfirmasi," terang AAPP dalam sebuah wawancara tertulis.
"Sejauh yang kami tahu, sandera tidak dicampur dengan penahanan pro-demokrasi lainnya,” lanjutnya.
AAPP mengatakan karena junta membuat perbedaan ini, terlihat "jelas memahami apa yang dilakukannya adalah penyanderaan."
Kelompok tersebut memperingatkan bahwa praktik tersebut kemungkinan akan meningkat.
"(Penyanderaan) adalah strategi junta untuk menimbulkan 'kekhawatiran', itu adalah bagian dari kampanye teror junta yang lebih luas yang dilancarkan terhadap penduduk," tegas kelompok itu.
"(Ini) hanya akan bertambah buruk karena junta semakin kehilangan garis depan, dengan serangan di kota-kota seperti Yangon dan Mandalay juga meningkat,” paparnya.
Praktik menyandera kerabat ditujukan untuk menekan perbedaan pendapat, tetapi tampaknya tidak berhasil.
Sementara itu, militer Myanmar belum menanggapi email dan teks rinci CNN tentang penahanan dan perawatan gadis itu. Namun Soe Htay dan putrinya tidak sendirian.
Dalam bulan-bulan sejak kudeta, junta telah melancarkan kampanye berdarah melawan lawan-lawannya, menembak mati pengunjuk rasa di jalan dan menahan ribuan dokter, aktivis, jurnalis, seniman - siapa pun yang dianggap musuh.
Myanmar telah dibawa ke kehancuran sejak kudeta, dengan junta militer melancarkan kampanye berdarah melawan protes dan pemogokan nasional.
Ekonomi hancur, dan gelombang Covid-19 yang mematikan menghancurkan bangsa. Pemberontakan sipil di kota-kota dan daerah perbatasan telah menyatakan perang rakyat terhadap militer, dengan milisi lokal melakukan serangan gerilya terhadap pasukan militer.
(Susi Susanti)