JAKARTA - Kota administrasi Jakarta Timur yang terdiri dari 65 Kelurahan dan 10 Kecamatan masih menjadi wilayah langganan banjir saat memasuki musim penghujan.
Wali Kota Jakarta Timur Muhammad Anwar mengatakan, di wilayahnya terdapat 18 kelurahan yang berpotensi menjadi wilayah rawan banjir akibat luapan air kali.
"Pada tahun 2020 banjir di 63 kelurahan sedangkan awal 2021, alhamdulillah turun hingga tersisa 18 kelurahan saja yang masih berpotensi banjir," ujarnya di Jakarta Timur, Kamis (30/9/2021).
Baca Juga: 3 Desa di Pulau Siberut Terendam Banjir
Dikatakan Anwar, berkurangnya kelurahan yang tergenang banjir lantaran pihaknya melakukan upaya penanganan seperti normalisasi saluran air, kali, serta pengerukan sejumlah waduk, dan situ di bagian hulu.
Upaya normalisasi dan pengerukan itu terbukti manjur karena dapat menampung lebih banyak debit air pada saluran air, kali, waduk, dan situ.
"Air bisa kita tahan dulu di sana, contohnya seperti di Waduk Munjul dan Waduk Cilangkap bisa menampung kurang lebih 390.000 meter kubik," ucapnya.
Anwar menuturkan, upaya penanganan lainnya yang terbukti dapat mengentaskan persoalan banjir yakni berkat pembangunan sumur resapan dengan kedalaman 20-30 meter untuk menampung debit air saat hujan deras.
"Sumur resapan dibangun jajaran Sudin Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Timur di lokasi rawan genangan dan banjir ini dibangun secara bertahap di 10 Kecamatan dan kini masih berjalan," tuturnya.
Baca Juga: Banjir 1 Meter Rendam Kota Padang, Puluhan Keluarga Mengungsi
Sebagai informasi, sejumlah Kelurahan rawan banjir di antaranya Kelurahan Kampung Melayu, Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Balekambang, Cililitan, Cawang dan Kecamatan Kramat Jati.
Lima kelurahan tersebut rawan banjir karena dilintasi aliran Kali Ciliwung, kontur sejumlah permukiman warganya rendah, berada di bantaran kali, dan belum sepenuhnya dinormalisasi.
(Arief Setyadi )