"Bung Karno telah menempatkan Indonesia dalam percaturan politik dunia," seru Tjahjo.
Peran tersebut, lanjut dia, dapat dilacak dari jejak sejarah. Dimulai dengan KTT Asia Afrika pada 1955 di Bandung, lalu puncaknya di KTT Gerakan Non-Blok I di Beograd, Yugoslavia pada 1961.
"Indonesia, melalui Bung Karno tidak henti-hentinya menyuarakan untuk mengurangi ketegangan antara dua blok besar dunia pada saat itu, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet," tutur Tjahjo.
Disimpulkan kemudian, arsip dalam konteks kebangsaan memiliki posisi sebagai endapan memori bangsa yang dapat dimanfaatkan untuk merangkai sejarah perjalanan bangsa. Sekaligus menjaga stabilitas keamanan dan politik, serta sarana pencarian identitas bangsa. (CM)
(Karina Asta Widara )