Bagi Nasrin, dia mengaku bergabung dengan 'Sekolah Online Herat' tak hanya memberinya harapan, tetapi juga membuatnya bermimpi lagi.
Saat ini dia tengah belajar bahasa Turki dengan salah seorang guru relawan, dan Nasrin berujar suatu hari dia akan senang tinggal di Istanbul.
Dalam beberapa pekan terakhir, ada beberapa berita positif bagi para siswa perempuan di utara negara itu, di mana para remaja putri kembali ke sekolah menengah di lima dari 34 provinsi Afghanistan.
Para perempuan muda di universitas swasta, tetapi bukan perguruan tinggi negeri yang dikelola negara, juga telah diizinkan untuk kembali.
Namun, bagi Nasrin dan saudara perempuannya yang tinggal di Kabul, bersama dengan sebagian besar siswa perempuan di seluruh negeri, masih ada larangan menyeluruh bagi mereka untuk kembali ke dunia pendidikan.
Juga bagi guru-guru perempuan, seperti ibu Nasrin, yang diperintahkan untuk tinggal di rumah, Taliban tidak menawarkan rencana kapan mereka akan diizinkan kembali bekerja.
Di ibu kota Kabul saja, PBB memperkirakan 70% dari semua guru yang memenuhi syarat adalah kaum perempuan.
Hal ini menunjukkan bahwa bahkan bagi bocah laki-laki dan remaja putra yang telah kembali, kemungkinan masih ada kekurangan besar staf pengajar untuk mendukung mereka.
Jauh sebelum kemunculan Taliban, Afghanistan sudah berjuang dengan kurangnya akses ke dunia pendidikan.
Menurut Kementerian Pendidikan pada 2019, lebih dari sepertiga anak berusia di atas 15 tahun masih buta huruf.
Namun dengan sebagian besar anak perempuan, setengah dari populasi siswa saat ini terjebak di dalam rumah, persoalan itu diperkirakan akan melonjak.
(Susi Susanti)