Peristiwa Serangan Joker di Kereta Bawah Tanah, Tekanan Hidup yang Berat Jadi Pemicu?

Tentya Noerani Dewi Richyadie, Jurnalis
Minggu 14 November 2021 13:28 WIB
Serangan joker di kereta bawah tanah di Jepang (Foto: Reuters)
Share :

"Dia adalah seorang pencari perhatian yang terdistorsi. Dengan berdandan sebagai Joker di malam Halloween, dia pikir dia akan lebih menonjol. Dengan bertingkah seperti Joker dan mengatakan dia mengaguminya, dia bisa mendapatkan lebih banyak perhatian dari orang-orang. Saya tidak berpikir dia memutuskan untuk meniru Joker karena dia melihat filmnya," lanjutnya.

Salain itu, sejumlah psikolog kriminal mengatakan ini bukan kejahatan seorang psikopat. Karena serangan massal jarang dilakukan oleh penderita gangguan jiwa yang teridentifikasi. Sebaliknya, mereka cocok dengan pola yang berbeda. Kejahatan itu banyak dilakukan oleh laki-laki yang merasa ditolak oleh masyarakat.

"Isolasi sosial atau kurangnya ikatan sosial adalah salah satu faktor risiko terbesar untuk tindak kriminal, seperti pembunuhan massal dan kejahatan sangat serius lainnya" terang Profesor Takayuki Harada, psikolog kriminal di Universitas Tsukuba.

"Jadi, mereka tidak punya saudara, tidak ada orang yang dicintai, tidak ada pekerjaan dan tidak ada ikatan sosial. Mereka kecewa dengan masyarakat dan sangat memusuhi masyarakat. Mereka juga bunuh diri," tambahnya.

Psikolog mengatakan pandemi mungkin telah mengintensifkan kesulitan ekonomi dan isolasi sosial, keduanya kemungkinan menjadi pemicu. Termasuk tekanan hidup yang dialami. Mereka juga prihatin dengan jumlah perhatian media yang ditarik oleh serangan joker.

"Ketika insiden serupa terjadi (di masa lalu) kita melihat peniru pasti muncul," kata Profesor Harada.

"Jadi saya pikir itu masalah yang media berikan detail, informasi, bagaimana kejahatan itu dilakukan. Jadi, saya pikir ini masalah besar,"lanjutnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya