Kisah Haru Letjen Sintong Panjaitan Saksikan Ribuan Prajurit Kopassus Terpaksa Lepaskan Baret Merah

Lutfia Dwi Kurniasih, Jurnalis
Minggu 14 November 2021 14:08 WIB
Foto: ist.
Share :

JAKARTA - Kisah haru pernah datang dari tubuh TNI lantaran adanya perampingan yang dilakukan mulai dari Kodam hingga Kopassus sekitar 1980-an oleh Panglima ABRI, LB Moerdani.

Jenderan (Purn) Benny Moerdani yang kala itu menjabat segera mengambil langkah untuk membenahi ABRI dengan melakukan pemotongan aturan, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan profesionalisme.

BACA JUGA: Selain Andika Perkasa, Ini 4 KSAD yang Sebelumnya Anggota Kopassus

Ia juga mengubah sistem komando kawasan sebagai Tingkatan Darat, Tingkatan Laut, dan Tingkatan Udara. Komando Kawasan Militer (Kodam) diturunkan dari 16 menjadi 10, 8 Komando Kawasan Tingkatan Laut (Kodaeral) dirampingkan menjadi 2 Komando Armada, dan 8 Komando Kawasan Tingkatan Udara (Kodau) sama-sama dirampingkan menjadi 2 Komando Operasi.

Atas peristiwa perampingan TNI itu cerita sedih pernah dialami Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan. Saat itu, dia menjabat sebagai komandan pertama Grup 3 Para Komando. Sejak awal, dia menentang keras ide perampingan di tubuh TNI, termasuk perampingan Kopassus oleh Jenderal TNI (Purn) Benny Moerdani.

Dengan lantang, dia berargumen dengan Jenderal TNI (Purn) Benny Moerdani. Sintong mencoba meyakinkan, biaya justru akan semakin boros jika perampingan dilakukan. Jumlah prajurit yang sedikit berarti harus mengadakan latihan yang lebih banyak agar dapat menyamai kekuatan prajurit berjumlah besar.

BACA JUGA: Idjon Djanbi dan Makna Pisau Komando Tegak Lurus ke Atas dalam Lambang Kopassus

"Jadi, Bapak kalau nggak punya duit, jangan dikecilkan," kata Sintong saat itu, dikutip MNC Potral dari buku Kopassus untuk Indonesia, Profesionalisme Prajurit Kopassus.

Argumen Sintong langsung dipatahkan. Jenderal TNI (Purn) Benny Moerdani menjawab tegas, perampingan tetap dilakukan.

Sintong masih mencoba menyampaikan berbagai argumentasi untuk mencegah pengurangan prajurit Kopassus, namun tetap tidak ada yang berhasil.

Perampingan di tubuh TNI termasuk Kopassus pada akhirnya tetap harus dilaksanakan. Salah satunya alih status Brigif 3 Linud Kopassus di Kariango menjadi Brigif Limud 3/Kostrad.

Sebelum dilakukan perampingan seluruh anggota Koppasus melakukan seleksi dilaksanakan di Sukabumi pada 1986. Anggota Kopassus kembali menjalani ujian di medan berat untuk diukur kemampuan fisik, mental, dan kecerdasannya. Tes dilakukan satu-satu dan didampingi psikiater. Latihan patroli malam hari juga dilakukan.

Para prajurit yang lulus tentu saja tetap boleh mengenakan baret merah dan tinggal di Jakarta. Sementara yang tidak lulus ditempatkan dalam kesatuan baret hijau Kostrad.

Sintong mengaku ingin menangis ketika mengetahui ternyata banyak prajurit Kopassus yang harus keluar.

"Saya rasanya mau menangis karena banyak orang yang baru masuk Kopassus harus keluar," kata Sintong.

Kemudian proses seleksi upacara pergantian baret tetap dilaksanakan di kesatrian Kariango dan berlangsung dengan penuh haru. Saat acara timbang terima, semua berdiri mengenakan baret merah.

Setelah upacara, semua bergantian menundukkan kepala. Mereka mengambil baret hijau dan mengganti baret merah yang dipakai di kepala.

Sintong lagi-lagi tak mampu menahan kesedihannya. Dia tidak tega melihat prajurit yang dia sebut anak-anak yang sangat dia sayangi itu, harus melepaskan baret merah kebanggaan mereka.

"Saya sedih sekali. Anak-anak buah ini betul-betul saya sayangi. Tetapi, negara mengatakan ini harus dilaksanakan. Ini kan orang-orang baik semua," kata mantan Komandan Kopassus itu lirih.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya