Jauh sebelum menjadi orang kepercayaan Presiden Soeharto dengan ditunjuk sebagai Panglima ABRI, LB Moerdani telah berkutat di dunia intelijen. Mentornya tak lain Ali Moertopo, mantan asisten pribadi Soeharto yang pernah menjabat Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin).
LB Moerdani sesungguhnya tak pernah punya pengalaman memimpin teritorial. Namun, dia memiliki catatan emas saat terjun di Merauke saat melawan kolonial Belanda dan setelahnya menumpas gerakan PRRI/Permesta di Sumatera.
Pada 1962 pasukan Kopassandha (kini Kopassus) terlibat dalam operasi tertutup, menyusup ke Merauke. Kapten LB Moerdani memimpin satu pasukan, melakukan terjun payung ke daerah rawa-rawa di Merauke.
LB Moerdani menyebut dirinya yang mengusulkan ide penyusupan itu lantaran slogan 'Dari Sabang sampai Merauke'. Sabang merupakan kota di ujung paling barat Aceh, sementara Merauke dianggap ujung paling timur Indonesia. Slogan itu juga menjadi judul lagu nasional berjudul sama.
Dia berpandangan, penguasaan Merauke akan memberikan pengaruh psikologis bagi kampanye Presiden Soekarno untuk mengambil alih Papua dari Belanda. "Soekarno memakai frase tersebut ketika memerintahkan invasi ke Papua," ungkap LB Moerdani dalam buku Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan tulisan Julius Pour.
Hampir seluruh kariernya dihabiskan untuk mengurus masalah intelijen. Setelah berselisih pendapat dengan Letjen Ahmad Yani, LB Moerdani harus meninggalkan Korps Baret Merah kebanggaannya.
Sejak itu pula dia menjadi perwira intelijen. Mula-mula medan perangnya Malaysia, kemudian Seoul, Korea Selatan, sebagaimana ditulis A Pambudi dalam buku 'Sintong & Prabowo: dari Kudeta LB Moerdani hingga Kudeta Prabowo'.
Setelah peristiwa Malapetaka 15 Januari atau Malari pada 1974. Ali Moertopo memanggilnya ke Jakarta. LB Moerdani diajak untuk menangani masalah-masalah intelijen hankam.
"LB Moerdani adalah generasi intelijen berikutnya yang dipercaya Soeharto setelah Ali Moertopo dan Yoga Sugama. Jenderal Benny dan Moertopo sama-sama terlibat dalam CSIS," tulis Pambudi.
Pada rentang 1974-1978, situasi agak tenang. Keputusan Presiden membubarkan lembaga Aspri (asisten pribadi) direspons banyak kalangan sebagai iktikad baik memperbaiki keadaan. Pada periode ini terjadi konsolidasi ulang lembaga intelijen di bawah LB Moerdani.
Setelah drama pembajakan Woyla, nama Benny kian bersinar. Prajurit yang juga melambung namanya yakni Sintong Panjaitan dan Subagyo HS. Tetap di level elite, menurut Julius Pour, Benny mendapat kredit besar.
LB Moerdani tutup usia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat pada 29 Agustus 2004, setelah sekitar tiga tahun lebih menderita sakit. Jenazahnya lalu dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
(Erha Aprili Ramadhoni)