Sedangkan Mbah Budin gantian mengantarkan nasi lele dan ikan air tawar lainnya ke Ngebung. Lele yang telah diolah tersebut saat hendak dimakan bisa loncat seolah masih hidup.
Berujung Perselisihan
Persaingan keduanya akhirnya berujung pada perselisihan. Kedua orang sakti itu akhirnya masing-masing mengeluarkan sumpah untuk tidak berbesan antara Pengkol dan Sangiran. “Itu cerita rakyat dulu,” kata Sutar. Alhasil, mitos itu diyakini sampai sekarang.
Menurut Sutar, warga setempat memakamkan Mbah Anti tidak di permakaman umum. Namun di sekitar rumahnya yang kini dikenal dengan Punden Mbah Anti. Di area itu terdapat pohon grasak atau sejenis beringin sehingga nama dukuhnya dikenal sebagai Dukuh Grasak.
“Sampai sekarang orang Jawa masih metri. Dulu orang luar ada yang bertapa di situ,” jelasnya.
Sutar menjelaskan warga Dukuh Pengkol melakukan kenduri di punden pada momen tertentu. Saat ada pasangan yang mau menikah harus kenduri di punden tersebut dan pada sedekah desa.
Ketua RT 011 Dukuh Sangiran, Suwardi, menjelaskan warga Dukuh Sangiran memiliki sekitar 260 keluarga. Namun tidak ada yang menikah atau berbesanan dengan Dukuh Pengkol saat ini.
Baca juga: 5 Mitos dan Sterotipe Seputar Motor Matik yang Berkembang di Indonesia
(Fakhrizal Fakhri )