Selesai mandi, Langgeng mentas dari sendang dan memakai pakaian bersih. Ia kemudian digendong ayahnya pulang.
“Anak ini saya gendong untuk mengurangi rasa sakitnya saat disunat nanti. Biar sakitnya ke saya saja. Ini tradisi turun-temurun di sini. Kami masih nguri-uri budaya Jawa ini,” kata Edi, 44.
Langgeng akan disunat di Boyolali. Lima hari setelah Langgeng dikhitan, Edi akan menanam tanaman di Sendang Gondang dengan harapan airnya akan terus mengalir. “Dengan cara seperti ini, kami berharap di sendang ini ora pedot banyune. Sendang kami tebari ikan dan di sekitarnya kami tanami pohon agar sumber airnya tetap terjaga,” katanya.
Jaga Lingkungan
Kepala Dusun (Kadus) II, Desa Kemiri, Sumardiyono, mengapresiasi kegiatan nguri-uri budaya Jawa yang dilakukan keluarga Edi. Kegiatan tersebut, menurutnya, memang menjadi tradisi warga di lingkungannya.
“Kegiatan seperti ini memang sudah menjadi tradisi sejak zaman embah-embah dulu. Ini kegiatan positif. Ini bagian dari nguri-uri budaya Jawa. Kalau bukan kita, siapa lagi? Sendang Gondang itu merupakan satu dari tujuh sendang yang ada di Kemiri,” katanya.
Hal senada disampaikan salah seorang sesepuh di Dukuh Kemiri, Sudino, 63. Ketua RT 013 ini mengaku melakukan hal yang sama seperti Langgeng saat disunat dulu, yakni mandi di Sendang Gondang.
“Di sini, anak yang disunat memang ada acara mandi di sendang seperti itu. Saat saya tetak [disunat] juga ke sana [mandi di Sendang Gondang],” katanya.
Sementara itu, Langgeng mengaku sangat senang dapat melestarikan budaya Jawa di desanya. “Saya tidak takut untuk disunat. Saya berharap, semoga cepat sembuh dan sehat,” kata si bocah tersebut.
(Rahman Asmardika)