Laporan tersebut juga menyertakan kutipan anonim dari para pekerja wanita.
"Kami memiliki kontraktor yang masuk ke kamar mandi kami. Kami telah meminta kunci. Kami tidak bisa mendapatkan toilet yang aman,” terang seorang wanita.
"Berjalan ke kamar di kamp, seorang pria memanggil saya untuk bergabung dengan mereka untuk minum. Saya menolak dengan sopan. Kemudian saya dipanggil wanita jalang dan lain-lain. Agresi menakutkan, ada 5 dari mereka, laki-laki besar, kuat, dan mereka berada di luar saya pintu. Saya merasa terintimidasi dan tidak aman,” ujar pekerja wanita yang ;ain.
Laporan itu juga mencatat budaya hierarkis yang didominasi laki-laki di perusahaan telah menciptakan faktor risiko. Sekitar 79% tenaga kerja perusahaan adalah laki-laki.
Secara keseluruhan, laporan tentang budaya tempat kerja Rio Tinto yang lebih luas menemukan bahwa intimidasi dan rasisme juga bersifat sistemik, dengan hampir separuh pekerja mengalami intimidasi.
"Perilaku berbahaya sering ditoleransi atau dinormalisasi. Perilaku berbahaya oleh pelaku berantai sering kali menjadi rahasia umum," tulis laporan tersebut.
Sebagai tanggapan, Rio Tinto pun mengatakan pihaknya sangat terganggu dengan temuan ini. “Kami dengan tulus meminta maaf kepada setiap anggota tim, dulu atau sekarang, yang menderita karena perilaku ini,” ujarnya.